• HOME
  • POLITIK
  • HUKUM
  • NARKOBA
  • WAWANCARA
  • EKONOMI
  • PENDAPAT
  • POLITISIANA
  • NUSANTARA
  • VIDEO
WIB
NEWSFLASH
Search
Bookmark and Share
WAWANCARA
Prof. dr. Rahajuningsih Dharma Setiabudy (Eva/dok)
Artikel Terkait:
  • Dr. Rimawati Tedjasukmana: Jangan Remehkan Kebiasaan Mendengkur
  • Prof. Dr. Herawati Sudoyo: Perempuan Indonesia Nenek Moyang Bangsa Madagaskar
  • Dr. Pauline Endang Praptini: Metode Food Print Bisa Kurangi Resiko Diabetes
2012-04-13 05:49:56 WIB

Prof. dr. Rahajuningsih: Hemofilia Belum Tertangani dengan Baik

Politikindonesia - Penyakit hemofilia adalah penyakit keturunan dengan gejala pendarahan yang disebabkan kekurangan zat dalam darah yang menyebabkan darah itu tidak bisa beku. Penyakit  ini  ditemukan di seluruh dunia, juga Indonesia. Pengetahuan masyarakat Indonesia tentang penyakit keturunan yang tidak menular ini masih rendah, begitu pula dengan penanganannya.  

Berkenaan dengan Hari Hemofilia sedunia pada 17 April mendatang, Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) menggandeng Novo Nordisk untuk menggalang program "Upaya Menghilangkan Kesenjangan dalam Penanganan Hemofilia" di Indonesia.  Menurut Sekretaris HMHI Prof. dr. Rahajuningsih Dharma Setiabudy, program ini bertujuan untuk memberikan dan menyebarkan edukasi mengenai penanganan hemofilia di Indonesia, dam membangun fondasi untuk menunjang fasilitas medis bagi pasien hemofilia.

Kepada Elva Setyaningrum dari politikindonesia.com, usai acara Diskusi dengan HMHI dalam Mencanangkan Program Penanganan Hemofilia di RSCM, Jakarta, Kamis (12/04), Rahaju menyebut, data tahun 2011 menunjukkan jumlah pasien penyakit ini di Indonesia mencapai 1.338 orang.

“Tapi perkiraan kami, jumlahnya bisa mencapai 20 ribu orang. Hal ini karena keterbatasan informasi dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang Hemofilia ini," ungkap Guru Besar Ilmu Patologi Universitas Indonesia ini.

Selain hemofilia, masih banyak penyakit perdarahan lainnya dengan angka kejadian kurang lebih 1 dari 1000 perempuan dan pria. Namun begitu 75 persen dari mereka masih mendapatkan pengobatan yang minim atau bahkan tidak mendapatkan pengobatan sama sekali, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

"Hal ini dikarenakan biaya pengobatan relatif mahal dan fasilitas diagnostik yang kurang lengkap. Di negara maju, penanganan hemofilia dan penyakit perdarahan lain telah lebih baik dan optimal sehingga pasien dapat hidup normal," paparnya.

Dalam kesempatan itu, ia mengungkapkan lebih jelas lagi mengenai bagaimana seseorang bisa menderita hemofilia, seperti apa gejala yang diderita. Bagaimana cara penanganannya. Berikut petikan wawancaranya.

Apa itu Hemofilia, dan bagaimana seseorang bisa terkena penyakit ini?

Penyakit hemofilia adalah penyakit dengan gejala pendarahan yang disebabkan kekurangan zat dalam darah yang menyebabkan darah itu tidak bisa beku. Hemofilia didapat sejak lahir dan bukan merupakan penyakit yang menular.  Penyakit ini diturunkan melalui gen orangtua.

Gen merupakan salah satu bagian dari kromosom. Ada 2 jenis kromosom, yaitu X dan Y. Kombinasi dari kromosom itu akan menentukan jenis kelamin anak yang akan dilahirkan. Seorang anak perempuan memiliki 2 kromosom X dan laki-laki, satu kromosom X dan satu Y. Sedangkan hemofilia diturunkan melalui kromosom X.

Jadi seorang laki-laki penderita hemofilia akan menurunkan gen hemofilia pada semua anak perempuannya. Bagi perempuan pembawa sifat, setiap kelahiran berpeluang menurunkan 50 persen gen hemofilia. Penyakit ini diderita seumur hidup.

Apa saja gejala umum pada hemofilia?

Gejala klinis yang terjadi adalah pendarahan pada setiap organ tubuh. Kadang pendarahannya bisa dengan mudah dilihat dan juga tidak bisa dilihat. Biasanya pendarahan terjadi setelah adanya benturan atau pembedahan. Misalnya pendarahan sendi, otot, kulit dan otak. Tapi bayi menderita hemofilia jarang sekali mengalami pendarahan. Pendarahan pada bayi akan terjadi saat mulai belajar merangkak. Pendarahan karena luka akan berlangsung lebih lama, terutama pada bagian mulut, hidung dan lidah.

Ada berapa jenis hemofilia dan apakah semuanya sama?

Terdapat 2 jenis hemofilia yaitu hemofilia A karena kekurangan faktor VIII dan hemofilia B karena kekurangan faktor IX. Penderita hemofilia A bisa ditemukan di seluruh dunia sekitar 80 persen dan umumnya tidak mengenai ras tertentu. Kedua jenis hemofilia tersebut mempunyai gejala yang, yaitu pendarahan tetapi pengobatannya berbeda.

Bagaimana cara mengetahui seseorang menderita hemofilia?

Penyakit ini tidak bisa dilihat dengan mata. Untuk mengetahuinya, selain ada riwayat pendarahan yang tidak normal dan gejala kliniknya juga harus dilakukan pemeriksaan laboratorium secara khusus, sehingga para dokter ahli bisa memberikan obat yang tepat dan mengambil tindakan selanjutnya.

Penangganan apa yang dilakukan, jika seseorang diketahui menderita hemofilia?

Ada 2 penanganan terhadap penyakit ini bisa langsung dilakukan pengobatan untuk pencegahan terhadap pendarahan (faktor pembekuan). Semua tergantung dari pendarahan yang dialami dan kondisi seorang pasien. Tapi kalau di Indonesia masih dilakukan terhadap pencegahan, hal ini berbeda dengan yang terjadi di luar negeri yang langsung dilakukan pengobatan.

Dengan penanganan yang baik, penderita hemofilia merupakan sumber daya manusia yang berkualitas dan produktif, sama seperti orang normal. Sayangnya, di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, penanganan penyakit ini belum sepenuhnya memuaskan. Sehingga cukup banyak penderita hemofilia yang menjadi cacat dan kesulitan mendapatkan lapangan pekerjaan.

Bagaimana cara melakukan pertolongan pertama, apabila penderita hemofilia mengalami pendarahan?

Tindakan sementara yang harus dilakukan adalah RICE, singaktan rest, ice, compression dan elevation. Rest adalah meletakan lengan atau kaki yang mengalami pendarahan diatas bantal dan jangan menggerakan persendian yang terluka. Ice adalah mengkompres luka dengan es untuk memperlambat laju pendarahan. Compression adalah membalut luka dengan perban elastis dan tekan luka dengan perban. Elevation adalah letak bagian tubuh yang mengalami pendarahan ditempat yang lebih tinggi dari posisi jantung. Tindakan ini bisa menurunkan tekanan pada bagian yang terluka sehingga bisa memperlambat lajunya pendarahan.

Apa saja yang harus dilakukan penderita hemofilia agar tetap sehat?

Penanganan medis seperti transfusi atau penyuntikan faktor pembekuan darah hanyalah salah satu agar penderita memiliki tubuh yang sehat. Selain itu, penderita juga harus melakukan olahraga dan menjaga kebugaran tubuh. Tak lupa melakukan pemeriksaan medis secara teratur termasuk pengecekan keadaan persendian dan otot. Tubuhnya juga harus menerima vaksinasi berbagai penyakit menular yang direkomendasikan dokter. Pasien juga harus mempertahankan berat badan yang seimbang.

(eva/kap)
 
FOLLOW US
             
POLITISIANA
Index >>

Bangunan di Bawah Gunung Padang Telah Terbukti

Hipotesa yang disampaikan Tim Terpadu Riset Mandiri tentang adanya bangunan di bawah situs megalitik...


Plato Tak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia

Plato adalah seorang filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa 424 sampai 347 Sebelum Masehi. A...

NUSANTARA
Index >>

Pilgub NTT: Hari Ini Putaran Ke-2 Digelar

Hari ini, Kamis (23/05) berlangsung putaran kedua pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Seju...


Pilgub Bali: KPUD Gelar Pencoblosan Diulang Ulang pada 1 TPS

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Bali melakukan pencoblosan ulang di Tempat Pemungutan Suara (TPS...
JAJAK PENDAPAT
Inikah Presiden RI 2014 - 2019 Pilihan Anda?
1.Aburizal Bakrie
2.Prabowo Subianto
3.Endriarto Sutarto
4.Dahlan Iskan
5.Gita Wirjawan
6.Sri Mulyani Indrawati



Hasil jajak pendapat


HOME | POLITIK | HUKUM | NARKOBA | WAWANCARA | EKONOMI | PENDAPAT | POLITISIANA | NUSANTARA | VIDEO | REDAKSI

Copyright © 2011 PolitikIndonesia.com All rights reserved