
Vera Hadiwidjojo: Biar Anak Memilih Bakat dan Minatnya Sendiri
Politikindonesia - Saat ini banyak sekali pilihan tempat dan jenis kursus yang bisa diikuti oleh anak-anak. Mulai dari kursus yang bersifat kesenian sampai olahraga. Ada baiknya, sebelum mendaftarkan anak pada suatu lembaga kursus, orangtua mengenali terlebih dahulu bakat dan minat dari sang anak.
“Sayangnya, saat ini tak banyak orangtua yang mengetahui bakat dan minat anak," ujar Psikolog Anak, Vera Itabiliana Hadiwidjojo kepada politikindonesia.com, Senin (02/04).
Psikolog yang akrab disapa Vera ini menjelaskan, orang tua jangan menyepelekan bakan dan minat yang dimiliki anak. Pengembangan bakat itu sangat baik bagi perkembangan dan pertumbuhan anak di masa depan.
Psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia ini mengambil contoh, bakat menggambar yang ditemui pada anak, misalnya. Ia menjelaskan, kegiatan menggambar sesungguhnya adalah bagian dari curahan pikiran, imajinasi, dan emosi, yang dituangkan ke dalam kertas.
Kegiatan ini juga bisa membuat anak lebih peka pada lingkungannya sehingga sensitivitas emosinya terasah. “Untuk dapat menggambar dengan baik diperlukan keselarasan antara apa yang di pikiran dengan kemampuan motorik, termasuk koordinasi tangan dan mata. Selain itu, anak juga perlu diberi kesempatan mengeksplor lingkungannya sehingga referensinya menjadi kaya," tegasnya.
Kepada Elva Setyaningrum, Vera memberikan beberapa tips, tentang apa yang harus dilakukan para orangtua jika sudah mengetahui bakat dan minat anaknya. Ia juga menjelaskan tentang efek positif kegiatan menggambar terhadap perkembangan sang anak. Berikut petikan wawancaranya.
Kapan sebaiknya orangtua mulai mencari tempat kursus untuk anak?
Memilih tempat kursus bagi anak memang gampang-gampang susah. Orangtua harus jeli dan tahu kebutuhan sang anak terlebih dahulu. Kesalahan dalam memilih tempat kursus, bisa berakibat buruk dan berdampak panjang buat anak. Ada dua faktor terpenting yang harus diperhatikan orangtua dalam memilih tempat kursus untuk anaknya, yaitu kondisi dan kebutuhan anak. Selain kedua faktor tadi, aspek-aspek penunjang lain juga turut memengaruhi pemilihan tempat kursus. Misalnya kemampuan finansial orangtua.
Bagaimana cara orangtua untuk dapat mengetahui bakat anaknya?
Agar tahu bakat dan minat anak, sebenarnya para orangtua tak perlu repot-repot meminta bantuan psikolog. Mereka cukup melihat apa saja yang paling suka dilakukan oleh sang anak. Misalnya, anak senang menggambar, bernyanyi, menari, atau bermain bola. Biarkan saja, mereka memilih minat dan bakatnya sendiri dengan mengenal lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya, semua bakat yang dipilih oleh anak punya tujuan yang baik buat perkembangan anak itu sendiri. Jadi sebaiknya setiap orangtua tidak perlu overprotektif terhadap anak-anaknya, dengan melarang melakukan kegiatan ini atau itu.
Lantas, setelah tahu bakat anak, apa yang harus dilakukan orang tua?
Membiarkan bakatnya itu berkembang. Tapi, saya ingin berpesan pada para orangtua agar tidak terburu-buru memasukkan anak ke lembaga kursus. Tunggu saja sampai anak mulai terlihat fokus, baru kemudian tanyakan apakah ia mau mengikuti les atau kursus.
Kalau anak memang berminat untuk mengikuti les, ajak anak untuk survei tempat kursus yang akan diikuti. Di awal, sebaiknya buat komitmen dengan anak berapa lama ia harus bertahan mengikuti kursus tersebut. Orangtua jangan kaget karena di usia sekolah dasar sampai remaja minat anak bisa berubah-ubah. Karenanya, orangtua jangan berlebihan menyikapi minat yang muncul. Nanti setelah masa puber biasanya minatnya baru menetap.
Apa yang bisa dilakukan untuk mendukung minat sang anak selain kursus?
Orangtua bisa memberikan stimulasi dan menawarkan berbagai pilihan. Berikan kesempatan agar anak bisa mengeksplorasi. Semakin besar anak, orangtua bisa menjadi teman diskusi. Misalnya, dalam memilih jurusan sekolah. Selain minat, harus ketahui juga bakat anak. Berbeda dengan minat, seseorang bisa dibilang berbakat kalau ia menghasilkan sesuatu yang istimewa. Misalnya meski ia berminat menari, namun bisa dibilang berbakat kalau ia berprestasi atau dengan cepat menguasai teknik tari dibanding anak seusianya.
Kalau anak berbakat dan minat dengan menggambar, bagaimana cara mengembangkannya?
Pada dasarnya kegiatan menggambar tidak bisa diajarkan. Cara mengajari menggambar yang paling baik adalah dengan tidak mengajarinya, tapi membiarkan anak berkreativitas dan orangtua tetap merangsang imajinasi anak.
Misalnya dengan memberi komentar positif dan pujian atas karya anak sehingga anak merasa nyaman dan senang. Selain itu, berikan fasilitas berupa kertas gambar dan peralatan menggambar lainnya. Intinya adalah berlatih terus-menerus sampai anak mahir memvisualkan bentuk-bentuk dalam coretan. Hanya dengan melihat sebuah benda, kalau anak memang berbakat ia akan bisa meresapi dan membuatnya menjadi gambar.
Apa hubungan perkembangan anak dengan kegiatan menggambar?
Ada tahapan mengapreasiasi seni. Ketika menggambar, anak tengah mencurahkan isi pikiran dan perasaannya dalam goresan. Itu bisa menjadi ekspresi melalui seni. Menenangkan hati juga bisa melalui goresan tangan karena ada anak-anak yang melakukan seperti itu.
Adakah manfaat menggambar bagi kehidupan kita?
Melukis atau menggambar apapun bentuknya ternyata hasilnya bisa dikategorikan sebagai art therapy alias terapi melalui seni. Jika Anda bisa melukis maka dapat menggunakan kegiatan itu sebagai sarana untuk membuang stres. Janganlah ragu untuk menggunakan jari-jemari sebagai alat lukis, bukan kuas. Rasa puas akan lebih terasa. Apabila Anda melakukan kegiatan menggambar dengan anak justru akan mendapatkan 2 keuntungan, yaitu melepas stres dan bisa menghabiskan waktu bersama. Jadi, walau Anda tidak bisa melukis, tidak masalah. Ambil saja secarik kertas dan mulai torehkan gambar-gambar yang ada di benak Anda.



