• HOME
  • POLITIK
  • HUKUM
  • NARKOBA
  • WAWANCARA
  • EKONOMI
  • PENDAPAT
  • POLITISIANA
  • NUSANTARA
  • VIDEO
WIB
NEWSFLASH
Search
Bookmark and Share
WAWANCARA
Nunuk Murdiati Sulastomo (Eva/dok)
Artikel Terkait:
  • Malkan Amin: Penyakit RI Sudah Kronis
  • Muhammad Lutfie: Muka Kita Ditampar!
  • Masitah: KPUD Tidak Independen, Pemilukada Kisruh
  • Mestariany Habie: Tata Organisasi Kemensekneg Belum Tertib
  • Miryam: Reformasi Birokrasi Dimulai Dari Kemen PAN
2012-02-22 03:16:16 WIB

Nunuk M Sulastomo: Budayakan Batik sebagai Identitas Indonesia

Politikindonesia - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak agar batik dijadikan sarana diplomasi Indonesia dalam pergaulan internasional. Batik bisa digunakan sebagai satu ciri identitas Indonesia. Sebab, batik telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Pengrajin batik Nunuk Murdiati Sulastomo, adalah salah seorang yang sangat setuju dengan ajakan Presiden itu. Sejak diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia, batik kini semakin kaya dengan perkembangan dan jenis yang semakin banyak. Sudah saatnya rakyat Indonesia bangga dengan batik sebagai budaya aslinya.

“Batik sudah diakui dunia milik Indonesia. Walaupun sejumlah negara memiliki batik, tapi batik Indonesialah yang diakui oleh dunia. Sudah seharusnya kita bangga menggunakan batik sebagai pakaian resmi negara. Khususnya, generasi muda janganlah malu memakai batik karena sekarang sudah banyak sekali model batik untuk remaja,” ujar dia dalam sebuah perbincangan dengan politikindonesia.com, di Jakarta, Selasa malam (21/02).

Upaya melestarikan batik dan mengajak kaum muda mencintai batik juga dilakukan Nunuk sejak lama. Ia bahkan menciptakan batik untuk digunakan sebagai seragam resmi di sekolah Harapan Ibu, dimana ia menjadi ketua yayasannya. Sejak 16 Juni 1981, batik ciptaannya yang diberi nama Kirana, telah digunakan sebagai seragam di sekolah tersebut.

Elva Setyaningrum dari politikindonesia.com, wanita kelahiran Klaten, 13 Juni 1941 ini bercerita panjang lebar tentang  batik kreasinya. Batik tersebut memiliki filosofi terkait dunia pendidikan. Perempuan ini juga berkomentar tentang serbuan batik impor dari Cina yang kini marak beredar di pasar Indonesia. Berikut petikannya.

Mengapa anda tertarik dengan Batik?

Batik adalah kreasi seni, dan kekayaan budaya budaya Indonesia yang tidak ternilai. Batik menggambarkan ketinggian nilai budaya nusantara sejak dulu kala dalam hal berpakaian. Sudah sepantasnya kita bangga dan mencintainya. Apalagi, kini batik sudah diakui oleh dunia sebagai warisan budaya Indonesia. Kita harus melestarikannya.

Presiden pernah mengimbau untuk menjadikan batik sebagai alat diplomasi, apa konmentar anda?

Saya sangat setuju. Walaupun sejumlah negara memiliki batik, tapi batik Indonesialah yang diakui oleh dunia. Sudah seharusnya kita bangga menggunakan batik sebagai pakaian resmi negara.  Batik bisa dijadikan sarana diplomasi Indonesia dalam pergaulan internasional untuk meningkatkan citra Indonesia sebagai sebuah bangsa yang mempunyai kebudayaan tinggi.

Khususnya, generasi muda janganlah malu memakai batik. Sekarang ini, perkembangan batik sudah sangat pesat. Banyak sekali model batik untuk anak dan remaja. Generasi muda harus mencintai dan melestarikan budaya batik Indonesia. Kita seharusnya malu, kalau banyak orang asing justru lebih menghargai batik. Siapa lagi yang akan melanjutkan tradisi batik Indonesia yang sudah diakui dunia ini kalau bukan generasi muda.

Anda juga pengrajin batik?

Ia. Saya sudah menekuni dunia batik sejak lama.  Saya juga menciptakan sendiri batik untuk seragam resmi sekolah yang telah digunakan sejak 1981.

Apa nama batik kreasi Anda?

Saya memberi namanya batik Kirana. Kirana sendiri artinya ciptaan Tuhan yang sempurna. Jadi dalam filosofinya, nama Kirana berarti harapan setiap orangtua untuk menjadikan anaknya menjadi sempurna sesuai dengan keinginan orangtua.

Motivasi Anda menciptakan batik sendiri?

Saya ingin memberikan karya yang khas, tidak meniru orang lain tapi makanya saya ciptakan sendiri. Idenya juga saya ambil sendiri. Saya ingin punya ciri khas sendiri. Motivasi saya menciptakan batik sendiri untuk memotivasi cita-cita seorang anak dalam mengejar ilmu. Agar para siswa bisa berkreatif visualisasi. Jadi setiap goresan batik itu ada filosofinya.

Apa filosofi  yang terkandung di dalam batik ciptaan Anda?

Warna biru yang saya pakai diharapkan anak-anak tidak berbatas menuntut ilmu. Walau mereka berasal dari pulau mana saja, mereka tetap bisa belajar menuntut ilmu bersama. Itulah alasannya saya buat lukisan abstrak pulau-pulau kecil. Selain itu, dalam proses belajar, anak-anak juga harus mau menyelamatkan pulau-pulau yang ada di Indonosia. Ada warna pinggiran putih sebagai batas dari abstrak pualu-pulau itu, saya ibaratkan sebagai kertas putih seperti kapas yang menjadi lampu merah. Itu artinya, sebagai anak-anak harus ada batas-batasan baik dalam pergaulan dan semua itu tidak boleh diterjang.

Sementara itu, gambar titik-titik di dalam abstrak pulau itu mengambarkan kepercayaan diri seorang anak untuk mampu mencari rezeki di luar tanpa bantuan orang lain. Misalnya, memakai nama orangtua yang sudah dikenal banyak orang. Jadi dengan kepercayaan diri, pendidikan dan kualitas yang dimiliki, diharapkan mereka bisa survive mencari rezeki dan kekayaan sendiri. Sedangkan, tulisan HI ini menandakan siswa yang bersekolah di sekolah Islam Harapan Ibu ada di mana-mana dan mereka bisa menjaga nama baik sekolah. Karena sekolah ini tidak membatasi potensi anak. Tulisan HI itu sekaligus mengenang nama ibunda saya, KH Mawardi Labay yang memberi nama Yayasan ini dan sekolah ini.  Filosofi batik ini semuanya saya terapkan dalam keluarga saya sendiri.

Apakah ciptaan itu anda patenkan?

Pada awalnya sebenarnya saya tidak terlalu memikirkan soal hak paten. Tapi karena dorongan teman-teman, akhirnya saya mendaftarkan batik Kirana ini ke Departemen Hukum dan HAM untuk mendapatkan hak paten.

Batik ini saya ciptakan pada 13 Juni 1980 dan mulai dipakai sebagai seragam resmi pada 16 Juni 1981. Setelah, 25 tahun pemakaian baru saya hak patenkan. Untungnya tidak ada kesulitan. Saya hanya menunggu selama 2 tahun karena batik ciptaan saya diumumkan dipublik terlebih dulu untuk menanyakan adakah yang akui batik ciptaan ini. Ternyata, tidak ada yang mengakui selain saya. Setelah itu, pada 16 April 2008, surat keterangan hak paten itu saya terima. Surat itu berlaku selama 10 tahun.

Apa pendapat anda terkait serbuan batik Cina yang ramai di pasar domestik?

Banjirnya batik Cina kita ambil sikap positifnya saja. Batik nasional tidak harus merasa tersaing dalam kreatifitas, karena kita lebih kaya akan kreasi batik. Batik nasional masih lebih baik dalam hal kreasi dan kualitas. Dengan banyak batik dari luar Indonesia di pasaran, batik nasional harus bisa terus meningkatkan kualitasnya. Bagaimana caranya membuat batik baik tulis dan cap yang tidak luntur dan berkualitas baik. Tapi kalo secara ekonomi itu yang harus diwaspadai. 
(eva/kap)
 
FOLLOW US
             
POLITISIANA
Index >>

Bangunan di Bawah Gunung Padang Telah Terbukti

Hipotesa yang disampaikan Tim Terpadu Riset Mandiri tentang adanya bangunan di bawah situs megalitik...


Plato Tak Bohong, Atlantis Pernah Ada di Indonesia

Plato adalah seorang filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada masa 424 sampai 347 Sebelum Masehi. A...

NUSANTARA
Index >>

Pilgub Lampung: KPUD Mulai Lakukan Sosialisasi

Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Lampung mulai melakukan sosialisasi tahapan pemilihan gubernur (...


Pulau Terdepan Miangas Butuh Dokter Ahli

Warga di Pulau Miangas Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara  memerlukan kehadiran dokter ...
JAJAK PENDAPAT
Inikah Presiden RI 2014 - 2019 Pilihan Anda?
1.Aburizal Bakrie
2.Prabowo Subianto
3.Endriarto Sutarto
4.Dahlan Iskan
5.Gita Wirjawan
6.Sri Mulyani Indrawati



Hasil jajak pendapat


HOME | POLITIK | HUKUM | NARKOBA | WAWANCARA | EKONOMI | PENDAPAT | POLITISIANA | NUSANTARA | VIDEO | REDAKSI

Copyright © 2011 PolitikIndonesia.com All rights reserved