
Ribka Tjiptaning (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2011-05-31 09:30:50 WIBRibka Tjiptaning: Nilai Luhur Pancasila Tak Pernah Luntur
Politikindonesia - Penerapan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini, dinilai sebagian kalangan mulai luntur. Untuk itu, perlu dilakukan upaya revitalisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam diri segenap anak negeri.
“Upaya revitalisasi nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara ini, boleh saja, asal sesuai dengan nilai-nilai murni Pancasila yang sesungguhnya. Jangan sampai upaya ini ditunggangi kepentingan tertentu seperti jaman Soeharto dulu,” kata dr. Ribka Tjiptaning, anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Politisi perempuan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mengungkapkan, bahwa sesungguhnya nilai-nilai luhur dari Pancasila yang digali oleh fonding father, Ir Soekarno, tak pernah luntur dari hati sanubari setiap anak yang dilahirkan di bumi pertiwi ini. “Yang luntur itu orangnya. Jadi kalau mau di revitalisasi ya orangnya bukan Pancasilanya.”
Lebih jauh Ribka juga menjabat sebagai ketua Komisi IX DPR menyatakan sedikit khawatir, kalau wacana revitalisasi Pancasila ini, hanya sebagai upaya pihak tertentu untuk melegitimasi penerapan nilai-nilai pancasila yang dilaksanakan pada rezim Soeharto adalah yang baik.
“Jangan salah. Nilai-nilai Pancasila yang diterapkan Soeharto, justru penerapan nilai-nilai yang salah yang hanya sesuai dengan selera dan kepentingan Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya. Nilai pancasila yang dijabarkan Soeharto yaitu nilai-nilai yang mensahkan cara untuk menghancurkan lawan politiknya,” tegas anggota dewan yang pernah menjadi korban rezim Soeharto, lantaran dirinya adalah anak mantan PKI.
Lantas, sebetulnya bagaimana nilai-nilai Pancasila yang sesungguhnya? Untuk merevitalisasi Pancasila, perlukah menghidupkan kembali lembaga dan mata pelajaran PMP di sekolah? Ragam pertanyaan ini juga dipaparkan perempuan kelahiran Yogyakarta, 01-Juli-1959 ini kepada Mirza Fichri dari politikindonesia.com di Gedung Parlemen, Selasa (31/5). Berikut petikannya.
Nilai-nilai luhur Pancasila yang merupakan nilai dasar bangsa Indonesia, akhir-akhir ini dirasa mulai luntur. Pendapat Anda?
Bagi saya, nilai luhur Pancasila yang sesuai dengan Pancasila-nya Soekarno tak pernah luntur dari kehidupan setiap anak bangsa di muka bumi pertiwi ini, khususnya bagi diri saya pribadi. Yang luntur itu adalah orangnya, terutama para pemimpinnya. Jadi, jangan menggunakan konsep Pancasila untuk melegitimasi tindakan mereka yang justeru menyimpang dari roh Pancasila yang sebenarnya.
Jadi wacana untuk merevitalisasi Pancasila yang dilontarkan pada pertemuan para pimpinan lembaga tinggi negara di MK beberapa hari lalu tersebut menurut Anda bagaimana?
Kalau soal wacana tersebut, ya sah-sah saja. Maksudnya, silakan saja orang berpendapat untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun yang saya tidak setuju, jika wacana tersebut diartikan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila di era orde baru lebih baik ketimbang era sekarang. Walau rezim sekarang juga tidak baik, bukan berarti era orba lebih baik.
Jadi, kalau mau merevitalisasi Pancasila, harus dari sumber utamanya. Jangan merevitalisasi Pancasila dari sumber yang salah yang justeru mengaburkan nilai-nilai Pancasila tersebut. Pancasila jaman Soeharto misalnya, itu juga bukan menganut nilai-nilai murni Pancasila yang sesungguhnya. Penerapan sila-sila dalam Pancasila Soeharto, hanya bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan dan membunuh setiap lawan poliktiknya saja.
Menurut Anda nilai-nilai Pancasila yang murni tersebut seperti apa?
Wah, kalau mau dijabarkan sangat panjang sekali. Namun begitu, dapat saya intisarikan nilai murni Pancasila yang sesuai dengan konsep penggali Pancasila, yaitu Soekarno, dapat diperas menjadi Tri sila, yaitu sosio nasionalis, sosio demokrasi dan ketuhanan. Lalu, diperas lagi menjadi eka sila, yakni gotong royong.
Dengan berpegang pada intisari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut, maka upaya revitalisasi seharusnya mendasarkan pada intisari dari sila-sila tadi, yaitu berakar pada persoalan kerakyatan atau sosialis. Jadi, tak mungkin kita dapat menerapkan nilai-nilai murni Pancasila kalau masih alergi dengan sosialis.
Untuk revitalisasi Pancasila diusulkan pembentukan institusi baru berupa badan atau lembaga yang independen dan menghidupkan kembali mata pelajaran PMP di sekolah?
Terus terang, saya curiga dengan upaya revitalisasi Pancasila dengan cara-cara seperti ini. Saya melihat ada upaya satu pihak yang ingin menyatakan agar nilai-nilai Pancasila tidak luntur, perlu diterapkan lagi hal-hal seperti yang dilakukan pada zaman orba. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa penerapan pancasila pada zaman orba adalah yang terbaik. Misalkan dengan diadakannya penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan pancasila (P4) yang intensif atau diterapkannya mata pelajaran PMP tadi.
Padahal, apa yang dilakukan rezim Soeharto tersebut hanya untuk melegitimasi Soeharto untuk melegitimasi kekuasaannya. Terus terang, saya tidak pernah ikut yang namanya penataran P4 tersebut. Kalau mata pelajaran PMP, saya singkat menjadi pendidikan moral prokem yang mendidik siswa untuk dapat membunuh lawan politiknya.
Terakhir, apa yang ingin Anda katakan terkait isu revitalisasi nilai-nilai Pancasila ini?
Sudahlah, kalau niat merevitalisasi nilai-nilai Pancasila tersebut masih ditumpangi kepentingan lain demi kekuasaan dan tidak dilakukan sesuai dengan jiwa dan ruh dari penggalinya, yaitu Ir. Soekarno, menurut saya lupakan saja. Apalagi kalau niat revitalisasi tersebut dalam kerangka melegitimasi bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila yang baik ialah pada era Orba, saya sangat tidak setuju sekali. Sebab, penerapan nilai pancasila era Seoharto ini jauh menyimpang dari nilai-nilai murni Pancasila sesuai penggalinya, Soekarno. Penerapan nilai Pancasila di era orba, cenderung menerapkan nilai untuk membunuh lawan politiknya.
(Mirza Fichri/kap)



