
Teras Gunung Padang (ist)
Artikel Terkait:
2012-08-03 08:34:37 WIBAda Beberapa Lapisan Budaya di Gunung Padang
Politikindonesia - Penelitian Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang menunjukkan ada beberapa lapisan budaya yang jejaknya terpapar di situs megalitikum tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Padang memiliki tipe multi component site.
Kata Koordinator Tim Arkeologi, Ali Akbar, dalam perbincangan dengan politikindonesia.com, Jumat (03/08), mengatakan, dalam pengeboran yang dilakukan sebelumnya di teras 3 dan teras 5, memperlihatkan dugaan adanya dua lapisan budaya berbeda di Gunung Padang.
Pertama, hasil carbon dating di teras 3 memperlihatkan umur material tersebut berasal dari 4.700 SM. Sedangkan, hasil carbon dating di teras 5 menunjukkan dugaan berasal dari 10.000 SM. Namun kemudian, dari hasil ekskavasi yang dilakukan di sebelah selatan Teras 5 Gunung Padang, tim arkeologi menemukan dugaan adanya lapisan budaya lain, yang lebih muda.
Hasil ini didapat setelah tim menemukan adanya sisa pembakaran di kedalaman 66 cm. “Ada aktivitas manusia di kedalaman 66 cm, yang usianya 2.450 BP (before present) atau sekitar 500 SM," ujar Ali Akbar.
Tim Arkeologi masih belum dapat menjelaskan mengenai aktivitas manusia seperti apa dari temuan sisa pembakaran tersebut. Tim juga masih meneliti konteks temuan sisa pembakaran tersebut dengan fungsi dari punden berundak yang terpendam di Gunung Padang. Hipotesa sementara hingga saat in, para arkeolog meyakini punden berundak itu sebagai tempat pemujaan.
Kata Ali Akbar, adanya berbagai lapisan budaya yang ditemuan saat penggalian merupakan hal yang biasa dalam penelitian arkeologi. Meski begitu, secara garis besar, ujar dia, ada 2 kesimpulan yang ingin disampaikan mengenai penelitian Gunung Padang. Pertama, Gunung Padang merupakan bangunan prasejarah yang sebelumnya diperkirakan kecil, ternyata memiliki luas yang sangat besar, hampir 15 hektar. “Prospek ini menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia sangat besar. Bahkan jika ini berasal dari 500 SM. Tapi perkiraan kami Gunung Padang berasal dari usia yang lebih tua,” ujar Ali,
Berdasarkan perbandingan struktur bangunan Gunung Padang dengan temuan megalitik lain, seperti di Pasir Angin, Lebak Cibadak, atau Pugung Raharjo, sebagian besar arkeolog percaya, bahwa Gunung Padang berasal dari periode Megalitik antara 2.500 SM hingga 1.500 SM.
Kesimpulan kedua, ujar Ali Akbar, hasil pengeboran dan uji carbon dating yang menunjukkan usia 10.000 SM juga bukan temuan yang bisa dianggap remeh.
Akan tetapi, Arkeolog memang belum melakukan ekskavasi hingga kedalaman 8 - 10 meter di Teras 5, yang memperlihatkan hasil 10.000 SM, sehingga, belum bisa dibuktikan apakah 10.000 SM itu merupakan lapisan budaya atau bukan.
Meski begitu, dari sudut pandang geologi, usia 10.000 SM di kedalaman 8 - 10 meter terbilang muda. Sebab, jika Gunung Padang terbentuk secara alamiah, setidaknya di kedalaman tersebut tes carbon dating menunjukkan usia jutaan tahun.
(kap/rin/nis) Kata Koordinator Tim Arkeologi, Ali Akbar, dalam perbincangan dengan politikindonesia.com, Jumat (03/08), mengatakan, dalam pengeboran yang dilakukan sebelumnya di teras 3 dan teras 5, memperlihatkan dugaan adanya dua lapisan budaya berbeda di Gunung Padang.
Pertama, hasil carbon dating di teras 3 memperlihatkan umur material tersebut berasal dari 4.700 SM. Sedangkan, hasil carbon dating di teras 5 menunjukkan dugaan berasal dari 10.000 SM. Namun kemudian, dari hasil ekskavasi yang dilakukan di sebelah selatan Teras 5 Gunung Padang, tim arkeologi menemukan dugaan adanya lapisan budaya lain, yang lebih muda.
Hasil ini didapat setelah tim menemukan adanya sisa pembakaran di kedalaman 66 cm. “Ada aktivitas manusia di kedalaman 66 cm, yang usianya 2.450 BP (before present) atau sekitar 500 SM," ujar Ali Akbar.
Tim Arkeologi masih belum dapat menjelaskan mengenai aktivitas manusia seperti apa dari temuan sisa pembakaran tersebut. Tim juga masih meneliti konteks temuan sisa pembakaran tersebut dengan fungsi dari punden berundak yang terpendam di Gunung Padang. Hipotesa sementara hingga saat in, para arkeolog meyakini punden berundak itu sebagai tempat pemujaan.
Kata Ali Akbar, adanya berbagai lapisan budaya yang ditemuan saat penggalian merupakan hal yang biasa dalam penelitian arkeologi. Meski begitu, secara garis besar, ujar dia, ada 2 kesimpulan yang ingin disampaikan mengenai penelitian Gunung Padang. Pertama, Gunung Padang merupakan bangunan prasejarah yang sebelumnya diperkirakan kecil, ternyata memiliki luas yang sangat besar, hampir 15 hektar. “Prospek ini menjadi bangunan prasejarah terbesar di dunia sangat besar. Bahkan jika ini berasal dari 500 SM. Tapi perkiraan kami Gunung Padang berasal dari usia yang lebih tua,” ujar Ali,
Berdasarkan perbandingan struktur bangunan Gunung Padang dengan temuan megalitik lain, seperti di Pasir Angin, Lebak Cibadak, atau Pugung Raharjo, sebagian besar arkeolog percaya, bahwa Gunung Padang berasal dari periode Megalitik antara 2.500 SM hingga 1.500 SM.
Kesimpulan kedua, ujar Ali Akbar, hasil pengeboran dan uji carbon dating yang menunjukkan usia 10.000 SM juga bukan temuan yang bisa dianggap remeh.
Akan tetapi, Arkeolog memang belum melakukan ekskavasi hingga kedalaman 8 - 10 meter di Teras 5, yang memperlihatkan hasil 10.000 SM, sehingga, belum bisa dibuktikan apakah 10.000 SM itu merupakan lapisan budaya atau bukan.
Meski begitu, dari sudut pandang geologi, usia 10.000 SM di kedalaman 8 - 10 meter terbilang muda. Sebab, jika Gunung Padang terbentuk secara alamiah, setidaknya di kedalaman tersebut tes carbon dating menunjukkan usia jutaan tahun.



