
Subak di Bali (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2012-05-12 03:10:53 WIBSubak, Penyangga Kebudayaan Bali
Politikindonesia - Subak, sebuah sistem pengairan tradisional dalam bidang pertanian, warisan turun-temurun di Bali mengalami perubahan dan perkembangan. Namun, sistem pengairan tradisional ini tetap menjadi penyangga kebudayaan Bali.
Ketua Grup Riset Sistem Subak, sekaligus Guru Besar Universitas Udayana, Bali, Prof. Dr. Wayan Windia, M.S., mengemukakan hal itu di Denpasar, Jumat (11/05).
Dalam aktivitas subak terdapat kegiatan kebudayaan seperti terjadi di desa adat (desa Pekraman). Kompas juga mencatat, sistem pengairan Subak dan terasiring serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Mangesta, Penebel, Tabanan, Bali.
Dalam perkembangannya, kata. Wayan windia, Ketua Badan Penjaminan Mutu Universitas Udayana, Subak mengalami proses transformasi dengan melakukan aktivitas budaya. Hal itu tercermin dengan adanya tempat suci (pura) dalam setiap sistem subak.
Profesor Windia mengatakan, Subak dalam perkembangannya mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi bidang pertanian yang mengandung kearifan lokal. Kearifan lokal itu, antara lain menyangkut agama, budaya, lingkungan, ekonomis, hukum, dan institusional.
Kearifan religius yang terkandung dalam organisasi subak, kata Wayan Windia, terfokus pada keyakinan tentang ketuhanan, spiritualitas yang merupakan roh kehidupan organisasi pengairan bidang pertanian.
Berbagai pihak berupaya mendorong subak, yang berwatak sosio kultural,bergerak dalam bidang ekonomi. Harapannya, agar mampu memberikan manfaat lebih besar kepada petani.
"Dengan masuknya unsur ekonomi dalam sistem subak akan mampu memperkuat subak dalam mengangkat harkat dan martabat petani," katanya.
Di luar itu, Wayan Windia menegaskan, organisasi pengairan Subak, dapat berfungsi sebagai pengendali pencemaran air. Fungsi utama Subak membagi air untuk pengairan irigasi secara adil sesuai luasan lahan garapan masing-masing petani.
(nam/rin/kap)



