
Sensor Seismic Portable ciptaan Univ Widya Darma (ist)
2012-05-04 14:25:14 WIBSensor Seismic Portable Ciptaan Mahasiswa Klaten
Politikindonesia -
(kap/rin/nis) Keprihatinan terhadap keadaan bencana, bisa dimanfaatkan menjadi sebuah semangat positif untuk melakukan inovasi. Yudi Hernawan Anggrianto, salah satu buktinya. Mahasiswa Universitas Widya Darma, Klaten ini, berhasil menciptakan sebuah alat sensor seismic portable yang berguna untuk memantau gempa.
Yudi adalah salah seorang anggota Pengurus Komunitas Pemerhati Seismik Indonesia (KPSI). Sebuah komunitas yang merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia yang aktif dalam mengkampanyekan persiapan menghadapi Bencana Alam dan merilis hasil-hasil kajian terkait Bencana Alam.
Pada Jumat (04/05), mereka beraudiensi dengan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief di Sekretariat Negara. Dalam kesempatan itu, Yudi mendemonstrasikan contoh alat sensor seismik yang diciptakanya.
Yudi mengaku, alat ini diciptakannya karena keprihatinan terhadap keadaan pada tahun 2010 di saat Gunung Merapi bergejolak, serta pengalaman pada saat menghadapi gempa dahsyat pada 27 Mei 2006. Sejak peristiwa bencana itu, Yudi mencoba beberapa cara untuk menciptakan sebuah alat sensor seismik.
Pada mulanya, yang berhasil diciptakannya alat yang sangat sederhana dengan menggunakan kumparan, magnet dan pegas dengan menggunakan rangka berbentuk huruf C. Percobaan mandiri yang dilakukan pada Desember 2010 dengan menggunakan multimeter digital, semakin meningkat kualitasnya. Alat tersebut semakin baik setelah Yudi berkolaborasi dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam KPSI.
Alat sensor getaran ini akhirnya diberi nama dengan Waspada Meter. Alat ini telah terbukti sensitifitasnya dalam menangkap getaran pergerakan tanah (seismic). Yudi menyebut, alat telah disebarkan ke beberapa daerah seperti Yogyakarta, Padang, Riau, dan akan ditambah lagi ke Bengkulu dan Aceh.
Waspada Meter ini menggunakan prinsip kerja GGL (Gaya Gerak Listrik) ini dengan memanfaatkan cara kerja pembangkit listrik (Generator/dinamo) untuk mengubah gerakan mekanik menjadi elektrik. Sistem kerja alat ini pada akhirnya akan berwujud preamplifier, yang merupakan hasil sinyal seismik. Dan kemudian dapat di pantau menggunakan multimeter, atau VU LED buzzer dengan bunyi yang di pakai sebagai tanda adanya aktivitas seismik serta diteruskan dengan menggunakan bantuan Teknologi Informasi seperti social media, website dan lainnya.
Waspada Meter ini telah di uji coba di beberapa tempat dan sampai saat ini masih terpasang di beberapa titik pemantauan seperti di Cawas, Klaten, Jawa Tengah di posisi : 7.769495 Lintang Selatan dan 110.696241 Bujur Timur. Di Lubuk Buaya, Koto Tengah, Padang di posisi : 0.8321 Lintang Selatan 100.317 Bujur Timur serta Jl. MH Thamrin No. 43 Padang diposisi : 0.956 Lintang Selatan dan 100.360 bujur timur.
Saat gempa 8,5 Skala Richter di Barat Pulau Semeuleu, 11 April 2012 lalu, alat yang di pasang di Klaten mendeteksi getaran dari gempa Aceh. Sedangkan, 3 spot alat yang dipasang di Padang, menangkap kenaikan seismic beberapa hari sebelum kejadian, tremor seismic terus terpantau oleh alat.
Staf Khusus Presiden Andi Arief sangat mengapresiasi dedikasi komunitas yang tergabung dalam KPSI ini. Andi berjanji akan berupaya untuk membantu pengembangan riset serta kerja-kerja konstruktif yang selama ini telah dilakukan KPSI.
Dalam waktu dekat akan digelar pelatihan oleh Kantor Andi Arief kepada anggota KPSI untuk meningkat standarisasi manajemen pada saat terjadi bencana dan manajemen pusat krisis pada saat penanggulangan setelah terjadi bencana.
“Terhadap dedikasi anak bangsa ini, Senin (07/05) depan, saya akan membantu mendaftarkan karya mereka ke Kemenkumham,” ujar Andi.
Andi sangat mengapresiasi karya-karya yang telah dilakukan oleh KPSI dan komunitas masyarakat lainya secara independen terkait bencana. “Ini menunjukan bahwa masyarakat kita telah beranjak maju dalam persiapan menghadapi bencana sejak kejadian Aceh 2004,” tandas Andi.
Yudi adalah salah seorang anggota Pengurus Komunitas Pemerhati Seismik Indonesia (KPSI). Sebuah komunitas yang merupakan gabungan dari berbagai elemen masyarakat dari berbagai wilayah di Indonesia yang aktif dalam mengkampanyekan persiapan menghadapi Bencana Alam dan merilis hasil-hasil kajian terkait Bencana Alam.
Pada Jumat (04/05), mereka beraudiensi dengan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief di Sekretariat Negara. Dalam kesempatan itu, Yudi mendemonstrasikan contoh alat sensor seismik yang diciptakanya.
Yudi mengaku, alat ini diciptakannya karena keprihatinan terhadap keadaan pada tahun 2010 di saat Gunung Merapi bergejolak, serta pengalaman pada saat menghadapi gempa dahsyat pada 27 Mei 2006. Sejak peristiwa bencana itu, Yudi mencoba beberapa cara untuk menciptakan sebuah alat sensor seismik.
Pada mulanya, yang berhasil diciptakannya alat yang sangat sederhana dengan menggunakan kumparan, magnet dan pegas dengan menggunakan rangka berbentuk huruf C. Percobaan mandiri yang dilakukan pada Desember 2010 dengan menggunakan multimeter digital, semakin meningkat kualitasnya. Alat tersebut semakin baik setelah Yudi berkolaborasi dengan rekan-rekannya yang tergabung dalam KPSI.
Alat sensor getaran ini akhirnya diberi nama dengan Waspada Meter. Alat ini telah terbukti sensitifitasnya dalam menangkap getaran pergerakan tanah (seismic). Yudi menyebut, alat telah disebarkan ke beberapa daerah seperti Yogyakarta, Padang, Riau, dan akan ditambah lagi ke Bengkulu dan Aceh.
Waspada Meter ini menggunakan prinsip kerja GGL (Gaya Gerak Listrik) ini dengan memanfaatkan cara kerja pembangkit listrik (Generator/dinamo) untuk mengubah gerakan mekanik menjadi elektrik. Sistem kerja alat ini pada akhirnya akan berwujud preamplifier, yang merupakan hasil sinyal seismik. Dan kemudian dapat di pantau menggunakan multimeter, atau VU LED buzzer dengan bunyi yang di pakai sebagai tanda adanya aktivitas seismik serta diteruskan dengan menggunakan bantuan Teknologi Informasi seperti social media, website dan lainnya.
Waspada Meter ini telah di uji coba di beberapa tempat dan sampai saat ini masih terpasang di beberapa titik pemantauan seperti di Cawas, Klaten, Jawa Tengah di posisi : 7.769495 Lintang Selatan dan 110.696241 Bujur Timur. Di Lubuk Buaya, Koto Tengah, Padang di posisi : 0.8321 Lintang Selatan 100.317 Bujur Timur serta Jl. MH Thamrin No. 43 Padang diposisi : 0.956 Lintang Selatan dan 100.360 bujur timur.
Saat gempa 8,5 Skala Richter di Barat Pulau Semeuleu, 11 April 2012 lalu, alat yang di pasang di Klaten mendeteksi getaran dari gempa Aceh. Sedangkan, 3 spot alat yang dipasang di Padang, menangkap kenaikan seismic beberapa hari sebelum kejadian, tremor seismic terus terpantau oleh alat.
Staf Khusus Presiden Andi Arief sangat mengapresiasi dedikasi komunitas yang tergabung dalam KPSI ini. Andi berjanji akan berupaya untuk membantu pengembangan riset serta kerja-kerja konstruktif yang selama ini telah dilakukan KPSI.
Dalam waktu dekat akan digelar pelatihan oleh Kantor Andi Arief kepada anggota KPSI untuk meningkat standarisasi manajemen pada saat terjadi bencana dan manajemen pusat krisis pada saat penanggulangan setelah terjadi bencana.
“Terhadap dedikasi anak bangsa ini, Senin (07/05) depan, saya akan membantu mendaftarkan karya mereka ke Kemenkumham,” ujar Andi.
Andi sangat mengapresiasi karya-karya yang telah dilakukan oleh KPSI dan komunitas masyarakat lainya secara independen terkait bencana. “Ini menunjukan bahwa masyarakat kita telah beranjak maju dalam persiapan menghadapi bencana sejak kejadian Aceh 2004,” tandas Andi.



