
Kerangka Goa Kidang, Blora, Jateng (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2012-04-30 02:46:57 WIBKerangka Purba di Blora, Perkuat Hipotesis Tim Katastropik
Politikindonesia - Temuan kerangka Homo Sapiens oleh Balai Arkeologi Yogyakarta di Gio Kidang, kawasan karst Pegunungan Kendeng Utara, Blora, Jawa Tengah menjadi benang merah penting tentang sejarah nusantara pada masa lalu. Kerangka yang berumur 14000 tahun, atau hidup pada 12000 sebelum masehi itu semakin memperkuat hipotesis, bahwa pernah ada peradaban masa lampau yang telah mengenal kebudayaan di Nusantara ini.
Demikian disampaikan oleh Koordinator Tim Bencana Katastropik Purba, Erick Ridzky dalam perbincangannya dengan politikindonesia.com, Senin (30/04). “Kami mengapresiasi rekan-rekan para arkeolog kita, atas penemuan kerangka manusia Homo Sapiens di Blora, beberapa waktu lalu.”
Kata Erick, hasil uji radiometrik karbon yang dilakukan arkelog menunjukkan kerangka, kerangka manusia Blora itu berusia 14000, atau hidup pada 12000 sebelum masehi. Fakta ini, imbuhnya, menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis awal dari tim bencana katastropik purba tentang pernah adanya peradaban masa lampau di Nusantara ini.
“Hipotesis kami tentang sejarah peradaban dunia yang tidak linier dikarenakan bencana yang selalu hadir sebagai faktor atas surutnya peradaban. Temuan manusia Blora ini akan semakin melengkapi hipotesis dan riset kami,” jelas dia.
Seperti diketahui, riset kebencanaan yang dilakukan Tim Katastropik Purba menemukan bangunan buatan manusia berbentuk piramida yang tertimbun di Gunung Sadahurip, Garut dan Gunung Padang, Cianjur. Temuan ini rencananya akan ditindaklanjuti dengan tim lintas ilmu.
Erick menerangkan, ide sebelumnya agar temuan Tim Bencana Katastropik Purba menjadi riset bersama dari berbagai latar belakang keilmuan akan semakin mendekati kenyataan, mengingat adanya kesamaan pada zaman dari masing-masing temuan, yakni temuan Timnya dengan Balai Arkeologi Yogyakarta.
“Secara empirik sudah ditemukan manusia yang hidup di zaman dimana kami menemukan anomali geologi, yang kami duga merupakan bangunan yang dibuat manusia. Studi berikutnya tentu akan semakin menantang, karenanya inovasi dan terobosan harus terus diupayakan untuk mendapatkan hasil studi yang komprenhasif," ujarnya.
Seperti diketahui, Balai Arkeologi Yogyakarta menemukan, kerangka homo sapiens pada kedalaman 115 centimeter di Goa Kidang. Kerangka itu ditemukan dalam posisi mirip bayi meringkuk di dalam rahim dengan kedua tangan menjadi bantalan tengkorak dan kaki terlipat. Kerangka ini ditemukan dalam keadaan utuh.
Ketua Tim Pola Okupasi Goa Kidang Indah Asikin Nurani mengatakan, temuan ini menguak studi baru tentang manusia prasejarah yang sudah mengenal ritual penguburan. Penguburan tersebut menghadap ke barat atau posisi matahari terbenam. Disekelilingnya, terdapat susunan bongkahan batu gamping, penaburan remis cangkang kerang dan remukan batu gamping merah.
Kerangka Homo sapiens utuh ini membuka pengetahuan baru tentang kecerdasan manusia pada era prasejarah. Manusia Goa Kidang yang hidup pada era 12000 SM, ternyata telah mampu membuat alat berburu dan meramu dengan teknologi yang lebih maju dibanding temuan jenis Homo sapiens lain.
Mereka membuat peralatan dari bahan cangkang kerang dan tulang binatang yang dibentuk dan diasah dengan alat batu. Mereka juga membuat mata anak panah yang terbuat dari tulang.
(kap/rin/nis)



