
Potensi gempa di Kepulauan Mentawai, Sumbar (ist)
Artikel Terkait:
2012-04-13 08:56:56 WIBSetelah Aceh, Kini Gempa Mentawai yang Mencemaskan
Politikindonesia - Rentetan gempa yang terjadi di kawasan Simeulue, Aceh pada Rabu (11/04) lalu, diprediksi akan meningkatkan tekanan pada sesar Mentawai. Gempa yang terjadi diluar zona subduksi tersebut meningkatkan kemungkinan munculnya gempa-gempa besar berikutnya di kawasan sekitar itu termasuk Mentawai, Sumatera Barat.
Setidak itulah analisa yang disampaikan oleh Direktur Observatorium Bumi Singapura, Kerry Sieh dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, Jumat (13/04). Sieh termasuk salah satu pakar geologi yang melakukan penelitian pasca gempa Aceh tahun 2004. Ia juga melakukan observasi langsung ke Mentawai pada 2008.
Pandangan Sieh ini, sejalan dengan analisa yang dikemukakan Ketua Program Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics (GREAT) Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, meskipun ancaman tsunami kecil, gempa tersebut menyebarkan energi ke daerah lain termasuk ke zona subduksi yang berada di sepanjang pantai barat Sumatera. "Energi yang disebarkan menambah stress pada megathrust," ujar Irwan, Kamis (12/04).
Baik Sieh maupun Irwan sepaham bahwa gempa 8,5 SR dan 8.1 SR tersebut merupakan jenis gempa sesar geser sehingga tidak menimbulkan tsunami yang besar seperti tahun 2004.
Sieh menyebut, peristiwa Rabu itu adalah gempa sesar geser terbesar yang pernah dicatat. "Benar-benar pengecualian besar dan langkanya," kata Sieh.
Bukan hanya terbesar untuk jenis gempa sesar geser, gempa susulannya juga unik karena merupakan gempa susulan terbesar kedua yang pernah tercatat. Sieh meyakini itu karena telah pernah meneliti sesar yang aktif dan mati di sekitar Sumatera tersebut.
Gempa Rabu ini juga berbeda karena muncul jauh di barat dari zona megathrust yang membentang dari utara ke selatan. Gempa pada sore hari itu melibatkan sebuah gerakan horizonal mendadak lempeng India dan Australia sejauh ratusan kilometer.
Meski magnitudonya besar, gempa sesar geser ini hanya mengakibatkan gelombang yang kecil dan dampak kerusakan yang tidak terlalu parah. Namun, Sieh memperingatkan, gempa ini meningkatkan tekanan pada lempeng di sekitar Aceh, termasuk meningkatkan kemungkinan munculnya gempa besar lagi di kawasan gempa besar 2004 yang mengakibatkan mega tsunami.
Observatorium Bumi Singapura sudah mempublikasikan pada 2010, bahwa gempa 2004 Aceh hanya melepaskan setengah dari tekanan berabad-abad di sepanjang 400 kilometer sesar megathrust yang membentang dari utara ke selatan sisi barat Sumatera. Artinya, sebuah gempa besar lainnya sedang menunggu waktu untuk meledak.
Ke selatan dari sesar megathrust itu terdapat kepulauan Mentawai. Tahun 2008, dalam riset terpisah, tekanan terlalu besar sedang terjadi di seksi ini sehingga satu atau lebih gempa besar akan terjadi dalam beberapa tahun. “Saya sangat yakin dalam beberapa dekade ke depan, akan terjadi gempa Mentawai yang memiliki magnitudo sebesar gempa kemarin," terang Sieh.
Dan ketika itu terjadi, sejarah menunjukkan gempanya lebih dari satu kali dalam beberapa tahun. Tahun 2007, sebuah gempa 8,4 skala Richter sudah menghajar megathrust Mentawai, namun hanya melepaskan sedikit tekanan. Gempa besar lainnya sebesar 9 skala Richter pada 1833 dan 8,4 skala Richter pada 1797.
Megathrust di kawasan Mentawai adalah kawasan yang selama ini banyak dipelajari oleh peneliti gempa dari berbagai belahan dunia. Kawasan ini terbentuk ketika lempeng Indoaustralia menunjam lempeng Eurasia. Penunjaman ini menyimpan energi sangat besar yang bisa dilepaskan sewaktu-waktu sebagai gempa besar. Gempa 9 Skala Richter pada 2004 yang melanda Aceh merupakan megathrust yang berasal dari zona subduksi di pantai barat Aceh.
Data gempa yang dimiliki Irwan memperlihatkan, gempa berpusat 400 kilometer dari Meulaboh atau 100 kilometer dari zona subduksi Aceh. Gempa susulan berkekuatan lebih kecil bergerak menjauh ke barat. Pusat gempa susulan berada 550 kilometer dari Meulaboh atau 250 kilometer dari zona subduksi."Bidang gempa berada di pita sepanjang 250 kilometer dan menjalar menjauhi Sumatera," kata dia.
Pergerakan gempa yang menjauhi Sumatera menyebabkan penyaluran energi ke zona subduksi menjadi lebih kecil. Jika zona subduksi Aceh aman, zona lain justru menjadi ancaman. Irwan menunjuk segmen megathrust di barat Padang justru semakin tertekan akibat penjalaran energi gempa Rabu lalu itu. Segmen ini sejak lama dipantau peneliti karena berpotensi mengguncang Sumatera dengan getaran sebesar 8,8 Skala Richter.
Energi yang disalurkan gempa Aceh, diperkirakan akan mempercepat terlepasnya energi di segmen Mentawai. “Proses penyaluran energi gempa kali ini mempercepat periode gempa Mentawai. Gempa besar akan lebih cepat terjadi, tetapi kekuatan gempa tak akan bertambah," ujar dia.
(kap/rin/nis)



