
Taman Purbakala Pugung Raharjo (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2012-04-11 04:50:04 WIBTaman Pugung Raharjo, Jejak Purbakala di Bumi Ruwai Jurai
Politikindonesia - Melongok jejak purbakala di Lampung, cukup banyak bukti adanya temuan artefak yang terkubur sebelumnya. Lampung juga sudah dikenal dengan piramida punden berundak, menhir dan lainnya. Salah satu bukti tentang jejak purbakala di Bumi Ruwai Jurai itu adalah Taman Pugung Raharjo. Taman purbakala yang luas kurang lebih hampir 30 hektar itu terletak di di Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur. Jaraknya sekitar 42 kilometer dari Bandar Lampung, dan 30 km dari Gunung Langgar.
Taman purbakala ini, adalah peninggalan prasejarah dari 2 tradisi, yakni era Megalitik dan Klasik. Tradisi megalitik merupakan jenis kebudayaan zaman prasejarah, di mana saat itu peradaban belum mengenal tulisan. Sebagai ciri-ciri alat kehidupan saat itu, masih terbuat dari bebatuan besar. Antara lain seperti batu tegak atau disebut (menhir), meja batu (dolmen) kuburan batu dan keranda batu. Sedangkan tradisi klasik, berlangsung setelah para nenek moyang kita, mendapat pengaruh kebudayaan Agama Hindu dan Budha. Tradisi ini terjadi pada abad ke 6 sampai 15 Masehi.
Sedikit cerita, tentang kompleks Taman Purbakala Pugung Raharjo semula dianggap masyarakat setempat sebagai kawasan yang angker. Pasalnya, daerah itu berupa hutan belantara yang lebat, dengan pohon-pohon besar, karena tidak pernah dihuni manusia selama ratusan tahun.
Baru pada tahun 1954, para transmigran asal pulau Jawa, membuka hutan di wilayah itu. Dari situlah keberadaan situs purbakala itu terungkap. Para transmigran nii menemukan gundukan tanah bersusun batu besar. Susunan tersebut, berbentuk bujur sangkar. Ditemukan pula batu arca yang kemdian diberi nama Putri Badriah atau lebih dikenal dengan patung Budha.
Temuan para transmigran ini kemudian ditindaklanjuti dengan survei dan penelitian oleh ahli benda bersejarah pada tahun 1968. Akhirnya Pemerintah Pusat dan Daerah melakukan pemugaran awal pada tahun 1977. Sedangkan pemugaran kedua tahun 1984, berhasil menyusun kembali peninggalan bersejarah tersebut ke posisi semula.
Di Pugung Raharjo juga ditemuakan peninggalan bersejarah yang bernilai situs budaya antara lain, situs 2 buah benteng yang terdiri gundukan tanah berbentuk memanjang dengan tinggi mencapai 3,5 meter dan panjang 1.200 meter. Sementara bagian luar benteng, terdapat parit atau sungai dengan kedalaman mencapai 3 sampai 5 meter.
Dari hasil penelitian sejarah, benteng tersebut merupakan tempat pertahanan dari serangan binatang buas dan suku lain. Selain itu, juga terdapat 13 punden kecil dan besar, terbuat dari gundukan tanah. Punden-punden ini, berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah para nenek moyang terdahulu.
Pada situs batu, terdapat situs batu kandang (batu mayat), batu bertakuk (batu berlubang) batu lumpang, batu bergores dan kolam pemandian umum. Kolam pemandian ini dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Konon, menurut cerita yang beredar, air dari sumber kolam pemandian di percaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan menjadi awet muda.
Sumber air bersih di taman purbakala ini memang awet. Sepanjang tahun tidak pernah kering, meski musim kemarau sekalipun. Di dalam kolam pemandian, terdapat batu dan gua bersejarah yang panjangnya puluhan kilometer. Goa tersebut tembus hingga danau Wayjepara. Namun sayangnya, gua tersebut, tidak dapat dilihat dengan kasat mata manusia biasa.
Ditarik benang merahnya dengan anomali morfologi di Gunung Langgar, yang ditemukan dalam riset awal Tim Katastropik Purba, bukan tidak mungkin, dugaan man made structure, di gunung yang nama lainnya Gunung Kedaton itu, benar adanya.
Akan tetapi, riset Tim Katastropik Purba tersebut, barulah sebuah riset awal. Kita tunggu saja, riset lanjutan yang akan dilakukan tim bentukan Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana ini.
Rencanaya, tim akan memanfaatkan teknologi mutakhir, seperti metode citra satelit, digital elevation model, peta IFSAR, geolistrik 2 dimensi, geolistrik 3 dimensi, Georadar, GPR geomagnet, dan kalibrasi uji melalui pengeboran untuk mengambil sample gunung itu nantinya.
Jika benar, ada piramida seperti halnya temuan Tim Katastropik Purba di Gunung Padang dan Gunung Sadahurip, tentu akan banyak membantu menjawab pertanyaan tentang kebencanaan di masa lalu. Sebuah peradaban dan kebencanaan itu memang selalu beriringan.
Paling tidak, temuan artefak di Lampung, baik yang sudah dilakukan selama ini maupun yang sedang di riset kecenderungan man made structure di Gunung Langgar, bisa lahirkan hipotesa yang menguatkan bahwa, Pulau Jawa dan Sumatera adalah dua pulau yang pernah bersatu kemudian terpisah oleh sebuah peristiwa.
Temuan artefak tersebut juga menguatkan hipotesa bahwa peradaban masa lalu bumi nusantara ini sangat tinggi. Dan hipotesa terakhir, pernah terjadi peristiwa kebencanaan yang sangat hebat dengan skala global katastrop, sehingga semua itu musnah tertelan bumi.
Bagi masyarakat Lampung sendiri, terutama Bandar Lampung, hal ini akan menjadi potensi baru. Situs budaya tersebut nantinya, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.
(kap/rin/nis)



