
Gunung Api Papandayan (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2011-08-05 13:32:43 WIBGunung Papandayan Selalu Dalam Pantauan PVMBG
Politikindonesia - Seakan diluar kenormalan. Geliat aktifitas gunung api di Indonesia saling susul menyusul. Setelah Gunung Lokon, Gunung Kerinci di perbatasan Sumatera Barat - Jambi, kini Gunung Marapi yang ada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, mulai berstatus Siaga. Adakah gunung api lainnya yang akan menyusul?
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Marapi dari Waspada menjadi Siaga. Peningkatan status ini, mempertimbangkan aktifitas vulkanik Marapi yang meletus 9 kali dan mengeluarkan banyak debu vulkanik yang berbau belerang.
Peningkatan status menjadi Siaga tentu disebabkan tingkat deformasi, gempa vulkanik, serta gas vulkanik yang meningkat secara signifikan.
Sebenarnya, sejak 29 Agustus 2010, dari 68 gunung api tipe A yang dipantau, Pusat Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM telah menetapkan, ada 18 gunung api yang berstatus Waspada. Sementara 2 gunung api berstatus Siaga dan 1 berstatus Awas.
Seperti Gunung Merapi, Ibu, Karangetang, Egon, Bromo, Anak Krakatau, erupsi gunung api memang kerap berulang. Besar kecilnya erupsi, tentu tergantung dengan kondisi masing-masing.
Diantara 18 gunung api yang berstatus Waspada, ada Gunung Api Papandayan yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pelekatan status Waspada berlaku sejak April 2006.
Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 70 km sebelah Tenggara Kota Bandung.
Pada 1 November 2010, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah V Garut, Jawa Barat, melarang segala bentuk kegiatan penelitian di sekitar Gunung Api Papandayan. Pelarangan itu menyusul dengan meningkatnya aktivitas gunung tersebut dalam sebulan terakhir.
“Untuk sementara kegiatan penelitian kami tutup dulu,” ujar Kepala Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah V Garut, Teguh Setiawan, kepada wartawan di Garut, Senin (01/11/2010).
Kata Teguh, aktivitas gunung menunjukan peningkatan yang signifikan. Dalam satu bulan tercatat satu kali gempa tektonik terasa, 184 kali tektonik jauh, 39 tektonik lokal, 38 vulkanik dalam, 438 kali vulkanik dangkal dan 3 kali gempa vulkanik tornelo.
"Suhu di sekitar kawah juga mengalami peningkatan. suhu solfatara di kawah manuk tercatat 100,2 derajat celcius, fumorola kawah manuk 77 derajat celcius, solfatar kawah emas 268-290-309 derajat celcius dan suhu air danau kawah sebesar 18,6 derajat celcius," jelas Teguh.
Menurut Teguh, dengan aktifitas seperti itu, kondisi kawah sewaktu-waktu dapat mengeluarkan gas beracun. Hawa belerang yang dikeluarkan dari kawah berbahaya bagi kesehatan yang dapat menimbulkan penyakit pada jantung atau asma.
Hari ini, Jumat 5 Agustus 2011, Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono berdampingan dengan Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, terlihat keluar meninggalkan Istana Kepresidenan.
Kedatangan Surono dan Andi Arief menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, besar kemungkinan ada kaitannya dengan perkembangan aktifitas Gunung Api di Indonesia. Apalagi, Gunung Marapi di Sumatera Barat baru saja ditingkatkan statusnya menjadi Siaga.
Ketika ditanya soal perkembangan Gunung Api Papandayan, Mbah Rono, begitu panggilan akrab pakar gunung api ini, hanya mengatakan, Gunung Api Papandayan selalu dalam pantauan PVMBG.
"Peralatan pemantau gempa di Papandayan termasuk yang paling lengkap," ujar Surono kepada politikindonesia.com.
Adakah peningkatan aktifitas di Papandayan? " Selalu kita pantau dan dikaji secara scientific," ujarnya.
Andi Arief menambahkan, pemerintah selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengantisipasi setiap bencana yang akan datang. "Baik tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi yang bisa menimbulkan tsunami, termasuk letusan gunung api."
Seperti diketahui, Gunung Papandayan memiliki beberapa kawah. Misalnya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.
Papandayan juga memiliki kawah belerang yang masih aktif. Padang tumbuhan Eidelweis masih rimbun yang luasnya mencapai puluhan hektar serta banyak pohon Mutiara Putih.
Gunung Papandayan mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Papandayan tercatat beberapa kali erupsi. Di antaranya pada 1773, 1923, 1942, 1993, dan 2003.
Letusan besar Gunung Api Papandayan terjadi pada tahun 1772. Ketika itu, sedikitnya 40 desa hancur. Korban jiwa sekitar 2951 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.
Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan.
Pada 25 Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500 derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai Cisurupan.
Pada 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak. Pada tahun 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas.
Pada 7-16 April 2008 Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Mas (245-262 derajat Celsius), dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Sementara tingkat pH berkurang dan konsentrasi mineral meningkat. Pada 28 Oktober 2010, status Papandayan meningkat menjadi level 2.
Gunung Papandayan merupakan Gunung paling Selatan dari deretan Pegunungan yang menghampar dari selatan kota Bandung.
(aan/atu/rin) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Marapi dari Waspada menjadi Siaga. Peningkatan status ini, mempertimbangkan aktifitas vulkanik Marapi yang meletus 9 kali dan mengeluarkan banyak debu vulkanik yang berbau belerang.
Peningkatan status menjadi Siaga tentu disebabkan tingkat deformasi, gempa vulkanik, serta gas vulkanik yang meningkat secara signifikan.
Sebenarnya, sejak 29 Agustus 2010, dari 68 gunung api tipe A yang dipantau, Pusat Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM telah menetapkan, ada 18 gunung api yang berstatus Waspada. Sementara 2 gunung api berstatus Siaga dan 1 berstatus Awas.
Seperti Gunung Merapi, Ibu, Karangetang, Egon, Bromo, Anak Krakatau, erupsi gunung api memang kerap berulang. Besar kecilnya erupsi, tentu tergantung dengan kondisi masing-masing.
Diantara 18 gunung api yang berstatus Waspada, ada Gunung Api Papandayan yang terletak di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pelekatan status Waspada berlaku sejak April 2006.
Gunung Papandayan memiliki ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 70 km sebelah Tenggara Kota Bandung.
Pada 1 November 2010, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah V Garut, Jawa Barat, melarang segala bentuk kegiatan penelitian di sekitar Gunung Api Papandayan. Pelarangan itu menyusul dengan meningkatnya aktivitas gunung tersebut dalam sebulan terakhir.
“Untuk sementara kegiatan penelitian kami tutup dulu,” ujar Kepala Seksi Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah V Garut, Teguh Setiawan, kepada wartawan di Garut, Senin (01/11/2010).
Kata Teguh, aktivitas gunung menunjukan peningkatan yang signifikan. Dalam satu bulan tercatat satu kali gempa tektonik terasa, 184 kali tektonik jauh, 39 tektonik lokal, 38 vulkanik dalam, 438 kali vulkanik dangkal dan 3 kali gempa vulkanik tornelo.
"Suhu di sekitar kawah juga mengalami peningkatan. suhu solfatara di kawah manuk tercatat 100,2 derajat celcius, fumorola kawah manuk 77 derajat celcius, solfatar kawah emas 268-290-309 derajat celcius dan suhu air danau kawah sebesar 18,6 derajat celcius," jelas Teguh.
Menurut Teguh, dengan aktifitas seperti itu, kondisi kawah sewaktu-waktu dapat mengeluarkan gas beracun. Hawa belerang yang dikeluarkan dari kawah berbahaya bagi kesehatan yang dapat menimbulkan penyakit pada jantung atau asma.
Hari ini, Jumat 5 Agustus 2011, Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono berdampingan dengan Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, terlihat keluar meninggalkan Istana Kepresidenan.
Kedatangan Surono dan Andi Arief menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, besar kemungkinan ada kaitannya dengan perkembangan aktifitas Gunung Api di Indonesia. Apalagi, Gunung Marapi di Sumatera Barat baru saja ditingkatkan statusnya menjadi Siaga.
Ketika ditanya soal perkembangan Gunung Api Papandayan, Mbah Rono, begitu panggilan akrab pakar gunung api ini, hanya mengatakan, Gunung Api Papandayan selalu dalam pantauan PVMBG.
"Peralatan pemantau gempa di Papandayan termasuk yang paling lengkap," ujar Surono kepada politikindonesia.com.
Adakah peningkatan aktifitas di Papandayan? " Selalu kita pantau dan dikaji secara scientific," ujarnya.
Andi Arief menambahkan, pemerintah selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengantisipasi setiap bencana yang akan datang. "Baik tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi yang bisa menimbulkan tsunami, termasuk letusan gunung api."
Seperti diketahui, Gunung Papandayan memiliki beberapa kawah. Misalnya Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Kawah-kawah tersebut mengeluarkan uap dari sisi dalamnya.
Papandayan juga memiliki kawah belerang yang masih aktif. Padang tumbuhan Eidelweis masih rimbun yang luasnya mencapai puluhan hektar serta banyak pohon Mutiara Putih.
Gunung Papandayan mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Papandayan tercatat beberapa kali erupsi. Di antaranya pada 1773, 1923, 1942, 1993, dan 2003.
Letusan besar Gunung Api Papandayan terjadi pada tahun 1772. Ketika itu, sedikitnya 40 desa hancur. Korban jiwa sekitar 2951 orang. Daerah yang tertutup longsoran mencapai 10 km dengan lebar 5 km.
Pada 11 Maret 1923 terjadi sedikitnya 7 kali erupsi di Kawah Baru dan didahului dengan gempa yang berpusat di Cisurupan.
Pada 25 Januari 1924, suhu Kawah Mas meningkat dari 364 derajat Celsius menjadi 500 derajat Celcius. Sebuah letusan lumpur dan batu terjadi di Kawah Mas dan Kawah Baru dan menghancurkan hutan. Sementara letusan material hampir mencapai Cisurupan.
Pada 21 Februari 1925, letusan lumpur terjadi di Kawah Nangklak. Pada tahun 1926 sebuah letusan kecil terjadi di Kawah Mas.
Pada 7-16 April 2008 Terjadi peningkatan suhu di 2 kawah, yakni Kawah Mas (245-262 derajat Celsius), dan Balagadama (91-116 derajat Celsius). Sementara tingkat pH berkurang dan konsentrasi mineral meningkat. Pada 28 Oktober 2010, status Papandayan meningkat menjadi level 2.
Gunung Papandayan merupakan Gunung paling Selatan dari deretan Pegunungan yang menghampar dari selatan kota Bandung.



