• HOME
  • POLITIK
  • HUKUM
  • NARKOBA
  • WAWANCARA
  • EKONOMI
  • PENDAPAT
  • POLITISIANA
  • NUSANTARA
  • VIDEO
WIB
NEWSFLASH
Search
Bookmark and Share
PENDAPAT
Velix Wanggai (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
  • Indonesia Sarang Teroris, Buktinya?
  • Hubungan Indonesia-Singapura Kian Panas
  • Hubungan Batin, Pertalian Darah Atau Pertalian Daerah
  • Indonesia-Malaysia Harus Tata Kembali Hubungan
  • Indonesia Perlu Peta Zona Rentan Banjir Bandang
2012-07-06 06:00:42 WIB

Gillard Teruskan Sejarah Hubungan Indonesia - Australia

Politikindonesia - Penegasan Perdana Menteri Australia, Julia Gillard, yang mendukung penuh kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk masalah Papua dalam pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Darwin, Australia, sebuah hal yang positif. Gillard meneruskan tradisi sejarah hubungan Indonesia – Australia.

Setidaknya demikian pendapat yang dikemukakan Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah, di Jakarta, Jumat (06/007). Hubungan antara Indonesia dan Australia telah terjalin sejak ratusan yang lalu. Para sejarawan menyebut, kedatangan para saudagar asal Makassar, Sulawesi Selatan sekitar abad ke-16 dan ke-17 ke Australia. Para saudagar ini berlayar ke pesisir utara dan pesisir barat di Benua Australia untuk menjalin perdagangan dengan penduduk asli Australia, di mana teripang sebagai komoditas utamanya.

“Hasil teripang ini kemudian diekspor ke China oleh saudagar Makasar. Salah satu yang singgahi adalah wilayah Arnhem Land yang terletak Negara Bagian Northern Territory. Mereka menetap dan berbaur dengan komunitas Aborigin. Relasi sosial semakin kuat dengan tali perkawinan antara para saudagar Makasar dan komunitas Aborigin.

Kisah hubungan historis dan budaya ini, jelas Velix, dikisahkan oleh para sesepuh klan Aborigin melalui dongeng, tarian, kidung, dan tulisan di kulit pohon. Sejumlah nama-nama tempat juga memakai bahasa Makassar, termasuk memperkaya khasanah bahasa lokal di komunitas Aborigin. Mereka menyebut orang-orang asal Indonesia sebagai ‘macassara'.

Demikian pula, dalam konteks penyebaran Islam di negeri Australia, tercatat bahwa selain berdagang, para pelaut Sulawesi Selatan juga memperkenalkan ajaran Islam. Ini berarti Islam masuk ke Australia sejak abad ke-16 dan abad ke-17.

“Ikatan historis yang berabad-abad ini menjadi latar belakang hubungan antara kedua negara. Dari masa ke masa, masing-masing pemimpin dari kedua negara ini terus membangun hubungan yang harmonis. Ada yang menilai hubungan seperti "roller coaster", bergelombang dan naik turun. Namun, sebagai tetangga dan sahabat yang baik, Indonesia dan Australia berupaya untuk mengelola hubungan yang lebih kuat demi membagi kepentingan bersama,” uajr dia.

Kata Velix, dengan paradigma, a million friends, zero enemy, yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) semakin memperkuat hubungan kedua negara. 6 bulan setelah kepemimpinannya pertama, Presiden SBY mengikat komitmen dengan PM John Howard lewat Deklarasi Bersama mengenai Kemitraan Komprehensif antara Indonesia dan Australia (Joint Declaration on Comprehensive Partnership between Indonesia and Australia) pada 4 April 2005.

Sebagai tetangga, dan juga sehabat yang baik, lanjut Velix, kedua pemimpin menegaskan sebuah era baru guna membentuk kawasan Asia Pasifik yang stabil, sejahtera, berimbang, dan demokratis. Melalui deklarasi bersama ini, kedua negara sepakat untuk lebih meningkatkan kerja sama ekonomi dan teknik, kerja sama keamanan, dan hubungan antara masyarakat dan masyarakat (people-to-people links).

Setahun kemudian, tepatnya pada 13 November 2006, Indonesia-Australia menegaskan ikatan yang lebih strategis melalui perjanjian antara Indonesia-Australia dalam kerangka kerja sama keamanan (Agreement Between the Republic of Indonesia and Australia on the Framework for Security Cooperation). Perjanjian ini dijuluki sebagai Lombok Treaty, yang kemudian disahkan melalui UU No 47 Tahun 2007 pada tanggal 18 Desember 2007.

Dialog Presiden SBY dan PM Australia Julia Gillard pada 2-3 Juli 2012 di Darwin, Nothern Territory, telah memberikan pesan yang kuat dalam memperkuat kerja sama yang strategis dan menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Isi deklarasi bersama antara SBY dan Howard pada 2005 lalu, “As sovereign nations, we each respect the territorial integrity and unity of the other. Australia does not support separatist movements in any part of Indonesia” , telah dilanjutkan oleh PM Julia Gillard yang mendukung penuh kedaulatan Indonesia. Sikap PM Julia Gillard itu menegaskan, bahwa persatuan, stabilitas, dan kesejahteraan di Indonesia adalah vital bagi kepentingan Australia.
(kap/rin/nis)
 
FOLLOW US
             
POLITISIANA
Index >>

Stop Berdebat, Ayo Beri Kontribusi Bagi Riset Gunung Padang

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta semua pihak terkait untuk tidak mengulang lagi mempe...


Bangunan di Bawah Gunung Padang Telah Terbukti

Hipotesa yang disampaikan Tim Terpadu Riset Mandiri tentang adanya bangunan di bawah situs megalitik...

NUSANTARA
Index >>

9 Tewas Terseret Gelombang Pasang Pantai Tulap Sulut

Gelombang pasang terjadi di Pantai Tulap, Kecamatan Kombi, Minahasa, Sulawesi Utara. Dalam peristiwa...


Waspadai Gelombang Tinggi di Selat Sunda

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini terkait potensinya m...
JAJAK PENDAPAT
Inikah Presiden RI 2014 - 2019 Pilihan Anda?
1.Aburizal Bakrie
2.Prabowo Subianto
3.Endriarto Sutarto
4.Dahlan Iskan
5.Gita Wirjawan
6.Sri Mulyani Indrawati



Hasil jajak pendapat


HOME | POLITIK | HUKUM | NARKOBA | WAWANCARA | EKONOMI | PENDAPAT | POLITISIANA | NUSANTARA | VIDEO | REDAKSI

Copyright © 2011 PolitikIndonesia.com All rights reserved