
Boediono (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2012-06-01 04:29:46 WIBPancasila Lahir dari Pengalaman Sejarah
Politikindonesia - Pancasila bukanlah hasil karangan ataupun hasil meniru dari karya buku. Pancasila lahir dari sebuah pengalaman dan proses sejarah. Sejarah yang memberikan pengalaman hidup pahit kepada para pendahulu di bawah kekuasaan kolonial yang menindas.
Demikian disampaikan Wakil Presiden Boediono dalam pidatonay di Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (01/06). “Saya sadari bahwa pemikiran Bung Karno yang di tahun 1945 dirumuskan dengan nama 'Pancasila', adalah pemikiran yang tidak ditiru dari buku manapun dan bukan dikarang dari awang-awang," ujar Boediono.
Kata Wapres, Pancasila lahir dari proses sejarah. Sejarah tersebut memberikan Bung Karno dan para pendahulu lainnya pengalaman hidup pahit di bawah kekuasaan kolonial yang menindas. Akan tetapi, sejarah juga menunjukan betapa kuatnya daya tahan rakyat Indonesia, daya tahan rakyat yang bersatu.
Pancasila, ujar Boediono, kini menjadi warisan bagi rakyat Indonesia. Pancasila adalah cita-cita untuk sebuah Indonesia yang kuat, yang dijalin dari perbedaan agama, etnis, suku, dan daerah. “Sebuah jalinan yang tidak didominasi oleh salah satu unsurnya. Sebuah jalinan yang dirajut bersama-sama.”
Dengan Pancasila, Indonesia bisa bertahan. Dan terbukti pula, Indonesia yang seperti itu yang mampu mengatasi berbagai krisis politik dan krisis ekonomi di masa lampau. “Semangat Pancasila selalu menjadi penyelamat. Tetapi itu tidak berarti kita menganggap Pancasila sebagai sesuatu yang sakral. Mensakralkan Pancasila justru akan menjauhkan Pancasila dari pengalaman hidup kita, orang-orang biasa, sehari-hari. Sebab Pancasila memang bukan wahyu yang turun dari langit," jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Boediono bercerita, beberapa tahun yang lalu dirinya sempat mengunjungi Ende, Flores, tempat pengasingan Bung Karno. Boediono menggambarkan di tempat itulah Bung Karno sering duduk di sore hari, menghadap ke laut, merenung, membaca buku, dan menulis.
“Di bawah pohon sukun itulah Bung Karno berpikir mencari jalan ke arah Indonesia yang merdeka. Merdeka dari penjajahan, merdeka dari keterbelakangan. Indonesia yang merdeka dalam berpikir, bekerja dan bersuara," ujar Wapres seraya menambahkan. “Oleh karenanya, ketika Soekarno merumuskan Pancasila, sebenarnya Soekarno ingin merumuskan suatu keharusan yang lahir dari perkembangan sejarah.”
Politik Tanpa Dikuasai Uang
Pada bagian lain pidatonya, Wapres menyebut, Indonesia masih tertinggal dalam hal membangun politik tanpa dikuasai uang. Korupsi telah menjadi kanker yang menggerogoti Indonesia saat ini. “Kita juga masih harus meningkatkan mutu demokrasi kita. Kita masih tertinggal dalam membangun politik yang tidak dikuasai uang.”
Saat ini, Indonesia menghadapi masalah korupsi yang sudah bertahun-tahun menjadi kanker dalam tubuh republik. "Dan baru saja mulai kita perangi dengan susah payah," terangnya.
Wapres juga menyinggung soal kekerasan terhadap media di Indonesia dan termasuk dari pemilik modal. "Tidak kalah penting, kita masih harus belajar banyak untuk mengelola perbedaan dan konflik antara sesama kita, yang tidak jarang berbentuk kekerasan dan pengrusakan.”
Khusus untuk kekerasan dan pengerusakan, Boediono meminta semua pihak dan elemen bangsa untuk bergerak mengatasinya. "Apalagi bila kita ingat, di Tanah Air kita sendiri pertumpahan darah juga pernah terjadi antar kelompok yang berbeda suku dan agama. Ingat konflik di Maluku dan Kalimantan beberapa tahun yang lalu," tambah Boediono.
Dengan pelaksanaan desentraliasi di Indonesia, maka sumber-sumber di daerah dapat diperkuat. Akan tetapi, Boediono mengingatkan akan sangat menyedihkan jika kehidupan politik lokal juga ditentukan oleh semangat kedaerahan yang sempit, bahkan semangat kesukuan yang tidak jarang dimanfaatkan oleh perbuatan korupsi, kronisme dan nepotisme. “Oleh karena itu, egoisme itulah yang harus kita tolak. Egoisme agama, egoisme bangsa, egoisme etnis, egoisme suku, egoisme kekuasaan, dan egoisme harta," tandas dia.
(kap/rin/nis)



