
Gempa di sekitar NAD pada 11 April 2012 (BMKG)
Artikel Terkait:
2012-04-13 10:30:49 WIBPerlu Segera Tim Riset Terpadu Teliti Gempa Aceh
Politikindonesia - Tim riset terpadu diminta untuk segera melakukan penelitian terhadap gempa 8,5 SR yang terjadi di kawasan Simeulue, Aceh pada Rabu (11/04) lalu. Sejumlah pertanyaan muncul terkait gempa tersebut, dan perlu dikaji secara ilmiah dampak gempa tersebut terhadap sejumlah patahan dan fault yang ada di Mentawai hingga Selat Sunda.
Setidaknya, demikian kesimpulan dari pertemuan tim ahli gempa dengan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial Andi Arief yang membahas gempa Aceh tersebut, Jumat (13/04).
Dalam petemuan tersebut mengemuka, hipotesa sementara, bahwa 2 gempa berskala 8,5 SR dan 8,1 SR tersebut sebagai dua gempa kembar yang berasal dari Sesar Geser di sistem patahan yang sejajar dengan Ninety-nine Ridge dan Investigator Ridge (berarah Utara Selatan).
Gempa Rabu itu ini adalah gempa istimewa karena merupakan jenis gempa sesar geser yang terbesar yang pernah direkam seismograf di Dunia. “Kita bersyukur korban dan kerusakan tidak terjadi seperti pada umumnya gempa sebesar itu. Namun masih menyisakan sebuah persoalan untuk dijawab oleh para periset kebumian,” ujar Andi Arief.
Bukan hanya Kalangan ilmuwan kegempaan Indonesia saja yang melihat keunikan gempa tersebut, tetapi juga ilmuwan di beberapa negara juga melakukan penilaian yang sama. Hipotesa yang muncul, kemungkinan terdapat dua bidang gempa yang berlainan. Ada bidang yang searah dengan arah gerakan lempeng, dan ada bidang kedua yang tegak lurus dengan arah gerakan lempeng.
Apabila hipotesis ini benar, maka gempa yang kedua 8,1 SR bukanlah aftershock. Tetapi gempa independent yang terpicu oleh gempa pertama (8,5 SR). Picuan ini terjadi dibagian ujung bawah.
Implikasi berikutnya, masih ada kemungkinan picuan di bagian utara yang lebih dekat dengan sumatera. Artinya, gempa ini akan memberikan pengaruh besar pada potensi percepatan pengulangan gempa di zona subduksinya.
Untuk membuktikan gempa besar ke-2 bukan aftershock dan implikasinya, perlu dilakukan riset. Harus dimulai sebuah tradisi di 2 wilayah yang berbeda. Kalau biasanya sesudah gempa selalu fokus pada penyebaran bantuan , tetapi kita juga harus mencoba untuk juga memfokuskan kajian mendalam mengenai proses gempanya dan implikasi di masa depan.
Karena sudah menjadi menjadi perhatian dunia, peneliti Indonesia harus mengambil leadership penelitian terkait hal ini. Selain ada tim tanggap darurat dan rekonstruksi/rehabilitasi yang bekerja sesuai UU, secepatnya periset kebumian di tingkat nasional melakukan penelitian terpadu yang mencoba merangkai semua fakta geologi di lapangan, yang berguna untuk assesment kebumian ke depan.
Jika tidak dilakukan riset, dan ternyata gempa kemarin punya 2 gempa dengan 2 fault plane yang berbeda, tidak akan diketahui bahwa paradigma gempa Aceh 2004 sepertinya merubah paradigma aktivasi strike fault dengan directivity yang beda. Bisa saja yang pertama mengamflifikasi Toba, dan yang kedua mempercepat megathrust Siberut Padang. Teoritis, Padang akan cukup panas. Hanya saja mana yang muncul duluan susah diterka. Secara hitungan, sumatera masih sisa paling sedikit dua gempa subduksi yang besar. Apakah lampung yang akan keluarkan 8,7 SR atau malah megathrust Siberut Padang 8,9 SR.
Zone yang masih virgin, simpanan efek dari gempa tahun 2000 adalah Lampung dan Jawa Selatan. Lampung akan lebih besar kemungkinannya, kalau hitung timing dan cluster zonenya.
Dari semua spekulasi itu, riset harus dilakukan segera. Karena, bukan tidak mungkin Selat Sunda adalah sumber mimpi buruk kedua setelah Aceh dan zona subduksi dan Pelabuhan Ratu adalah sumber berikutnya.
Bahkan riset juga harus melihat hubungannya kemudian dengan aktifitas beberapa gunung termasuk juga Krakatau. Untuk memastikan semuanya, tidak boleh terlambat melakukan riset terpadu dan sesegera mungkin. Agar rekomendasi segera didapatkan untuk langkah-langkah mitigasi di masa depan.
(kap/rin/nis)



