
Ilustrasi listrik padam (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-08-27 09:59:26 WIBListrik Bandarlampung Padam 22 Jam
Politikindonesia - Krisis listrik sebesar 200 MW di Bandarlampung akibat pasokan dari Sistem Interkoneksi Sumatera menyebabkan sebagian wilayah Lampung, tepatnya di sepanjang Kecamatan Sukarame hingga sebagian Sukabumi kondisinya gelap gulita selama 22 jam.
"Pemadam listrik berlangsung sejak Kamis, pukul 15.00 WIB dan baru menyala jelang salat Jumat," kata Andi, 33, warga yang tinggal di Sukarame Bandarlampung, Jumat (27/08).
Pemadaman yang cukup lama itu, menurutnya sangat mengganggu kekhusukan ibadah Ramadan warga. Karena sebagian besar warga tidak dapat menyalakan peralatan memasak nasi mereka untuk santap sahur. “Selain itu, salat tarawih berlangsung tanpa pengeras suara," katanya.
Sumargo, Kahumas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Lampung mengakui pemadaman di sebagian wilayah kota Bandarlampung itu. Namun pemadaman tersebut tanpa rencana. Menurutnya, pemadaman itu bukan disebabkan adanya pemeliharaan pada instalasi pembangkit PLN, tetapi karena memang ada kerusakan
“Pasokan listrik dari Sistem Interkoneksi Sumatera terputus akibat gangguan penghantar pada jaringan antara Bukit Kemuning hingga Baturaja,” ujarnya.
Sumargo menambahkan, pasokan Sistem Interkoneksi Sumatera per harinya, mencapai 160 hingga 200 megawat karena pasokan listrik dari sejumlah pembangkit lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik saat beban puncak. "Saat ini kerusakan sudah teratasi dan pasokan listrik sudah kembali normal," katanya.
Kebutuhan listrik untuk wilayah Lampung saat beban puncak antara pukul 17.00 hingga 22.00 WIB mencapai 450 megawat. Sedang empat pembangkit listrik di Lampung, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Way Besai di Lampung Barat, PLTA Batutegi di Tanggamus, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tarahan Lampung Selatan, dan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, hanya mampu menghasilkan listrik 320 Megawat.
PLTA Way Besai menghasilkan pasokan listrik sebesar 70 megawat, PLTD sebanyak 28 Megawat dan PLTU Tarahan 2 x 100 megawat. Sementara itu PLTA Batutegi sepanjang 2010 tidak lagi mampu menghasilkan pasokan listrik, akibat volume air pada bendungan yang tidak mencapai jumlah minimal untuk menghasilkan listrik.
(sa/yk) "Pemadam listrik berlangsung sejak Kamis, pukul 15.00 WIB dan baru menyala jelang salat Jumat," kata Andi, 33, warga yang tinggal di Sukarame Bandarlampung, Jumat (27/08).
Pemadaman yang cukup lama itu, menurutnya sangat mengganggu kekhusukan ibadah Ramadan warga. Karena sebagian besar warga tidak dapat menyalakan peralatan memasak nasi mereka untuk santap sahur. “Selain itu, salat tarawih berlangsung tanpa pengeras suara," katanya.
Sumargo, Kahumas Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Lampung mengakui pemadaman di sebagian wilayah kota Bandarlampung itu. Namun pemadaman tersebut tanpa rencana. Menurutnya, pemadaman itu bukan disebabkan adanya pemeliharaan pada instalasi pembangkit PLN, tetapi karena memang ada kerusakan
“Pasokan listrik dari Sistem Interkoneksi Sumatera terputus akibat gangguan penghantar pada jaringan antara Bukit Kemuning hingga Baturaja,” ujarnya.
Sumargo menambahkan, pasokan Sistem Interkoneksi Sumatera per harinya, mencapai 160 hingga 200 megawat karena pasokan listrik dari sejumlah pembangkit lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik saat beban puncak. "Saat ini kerusakan sudah teratasi dan pasokan listrik sudah kembali normal," katanya.
Kebutuhan listrik untuk wilayah Lampung saat beban puncak antara pukul 17.00 hingga 22.00 WIB mencapai 450 megawat. Sedang empat pembangkit listrik di Lampung, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Way Besai di Lampung Barat, PLTA Batutegi di Tanggamus, Pembangkit Listrik Tenaga Uap Tarahan Lampung Selatan, dan sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, hanya mampu menghasilkan listrik 320 Megawat.
PLTA Way Besai menghasilkan pasokan listrik sebesar 70 megawat, PLTD sebanyak 28 Megawat dan PLTU Tarahan 2 x 100 megawat. Sementara itu PLTA Batutegi sepanjang 2010 tidak lagi mampu menghasilkan pasokan listrik, akibat volume air pada bendungan yang tidak mencapai jumlah minimal untuk menghasilkan listrik.



