
Anwar Adnan Saleh (Helmi/dok)
Artikel Terkait:
2010-08-24 03:14:24 WIBGubernur Sulbar Akan Nonjobkan Penjahat Gernas
Politikindonesia - Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Anwar Adnan Saleh mengultimatum jajarannya untuk tidak main-main dengan program Gerakan Nasional (Gernas) peningkatan produksi dan mutu Kakao tahun anggaran 2010. Siapapun, jika terindikasi korupsi anggaran gernas, selain akan berurusan dengan hukum, juga akan dinonjobkan.
Peringatan itu diberikan Gubernur Sulbar di Mamuju, Selasa (24/08).
Adnan mengatakan, anggaran Gernas 2010 di Pulau Sulawesi mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan 2009 yang mencapai Rp1 triliun. Bekas anggota Fraksi Golkar DPR itu berharap, penurunan anggaran tersebut tidak mengurangi semangat dalam melaksanakan program Gernas di Sulbar.
Bahkan, Sulbar harus menjadi contoh bagi daerah penerima Gernas lainnya. Karena program tersebut berasal dari Sulbar yang kemudian diangkat menjadi program nasional pada 2008. Semua pihak diminta tetap serius menyukseskan program tersebut.
Adnan mengaku sangat kecewa, jika ada pejabat, khususnya pada Dinas Perkebunan di lima kabupaten penghasil kakao di Sulbar yakni Mamuju, Majene, Mamasa, Polman, dan Mamuju Utara. yang tidak mengindahkan larangan itu.
Adnan mengingatkan untuk menjadikan program tersebut sebagai proyek percontohan nasional, ditempuh dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Apalagi sekarang, kakao telah menjadi ikon daerah tersebut. Ia berharap anggaran yang dikucurkan, baik melalui APBD maupun APBN 2010 tetap dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Adnan mengakui, penurunan anggaran pada 2010 hingga 50 persen itu, cukup berat. Hal itu mengakibatkan, banyak program peningkatan produksi dan mutu kakao yang telah direncanakan, menjadi terbengkalai. Akibat tidak berimbangnya pembiayaan untuk petani.
Untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada, target sebaran pengembangan kakao tahun ini akan dikurangi dari target awal. Adnan berharap, petani kakao tidak panik menghadapi hal itu. Sebab pada 2011, pemerintah pusat telah berjanji untuk mengucurkan dana Rp200 miliar lebih.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulbar itu mengakui, salah satu komoditi andalan yang berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayahnya yakni kakao. Hasil panen kakao petani Sulbar katanya menyumbang produksi nasional hingga 20 persen.
Produk kakao Sulbar per tahun sekitar 180,000 ton dari lahan seluas 332.902 hektare. Tak kurang dari 800.000 petani atau sekitar 65 persen dari jumlah penduduk Sulbar (1.160.000 jiwa) dilibatkan dalam program pertanian tersebut.
Berkat kakao itulah, pertumbuhan ekonomi Sulbar pada triwulan II tahun 2010 berhasil melampaui 32 provinsi lain. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi ke-33 tersebut, mencapai 15,1 persen, atau tertinggi di Tanah Air. Pencapaian itu dibayangi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang pertumbuhannya mencapai 13 persen.
(sa/na) Peringatan itu diberikan Gubernur Sulbar di Mamuju, Selasa (24/08).
Adnan mengatakan, anggaran Gernas 2010 di Pulau Sulawesi mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan 2009 yang mencapai Rp1 triliun. Bekas anggota Fraksi Golkar DPR itu berharap, penurunan anggaran tersebut tidak mengurangi semangat dalam melaksanakan program Gernas di Sulbar.
Bahkan, Sulbar harus menjadi contoh bagi daerah penerima Gernas lainnya. Karena program tersebut berasal dari Sulbar yang kemudian diangkat menjadi program nasional pada 2008. Semua pihak diminta tetap serius menyukseskan program tersebut.
Adnan mengaku sangat kecewa, jika ada pejabat, khususnya pada Dinas Perkebunan di lima kabupaten penghasil kakao di Sulbar yakni Mamuju, Majene, Mamasa, Polman, dan Mamuju Utara. yang tidak mengindahkan larangan itu.
Adnan mengingatkan untuk menjadikan program tersebut sebagai proyek percontohan nasional, ditempuh dengan penuh perjuangan dan kerja keras. Apalagi sekarang, kakao telah menjadi ikon daerah tersebut. Ia berharap anggaran yang dikucurkan, baik melalui APBD maupun APBN 2010 tetap dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Adnan mengakui, penurunan anggaran pada 2010 hingga 50 persen itu, cukup berat. Hal itu mengakibatkan, banyak program peningkatan produksi dan mutu kakao yang telah direncanakan, menjadi terbengkalai. Akibat tidak berimbangnya pembiayaan untuk petani.
Untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada, target sebaran pengembangan kakao tahun ini akan dikurangi dari target awal. Adnan berharap, petani kakao tidak panik menghadapi hal itu. Sebab pada 2011, pemerintah pusat telah berjanji untuk mengucurkan dana Rp200 miliar lebih.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Sulbar itu mengakui, salah satu komoditi andalan yang berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi di wilayahnya yakni kakao. Hasil panen kakao petani Sulbar katanya menyumbang produksi nasional hingga 20 persen.
Produk kakao Sulbar per tahun sekitar 180,000 ton dari lahan seluas 332.902 hektare. Tak kurang dari 800.000 petani atau sekitar 65 persen dari jumlah penduduk Sulbar (1.160.000 jiwa) dilibatkan dalam program pertanian tersebut.
Berkat kakao itulah, pertumbuhan ekonomi Sulbar pada triwulan II tahun 2010 berhasil melampaui 32 provinsi lain. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi ke-33 tersebut, mencapai 15,1 persen, atau tertinggi di Tanah Air. Pencapaian itu dibayangi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang pertumbuhannya mencapai 13 persen.



