
Kantor Bupati Mesuji yang dibakar massa (Oes/dok)
Artikel Terkait:
2012-05-07 03:21:54 WIBKhamamik Duga Pembakaran Kantor Pemkab Ditunggangi
Politikindonesia - Bupati Mesuji Khamamik menduga ada pihak yang menunggangi konflik yang terjadi di wilayah yang dipimpinnya. Peristiwa tragis pembakaran kantor Pemerintahan Kabupaten Mesuji beberapa waktu lalu merupakan massa bayaran. Mereka berusaha membonceng konflik politik yang tengah melanda Mesuji. Kelompok itu digerakkan pemodal kuat dengan motif-motif tertentu.
"Saat aksi terjadi, ada tiga kelompok, yaitu massa pendukung, warga, dan massa bayaran. Massa bayaran itu yang harus diusut," kata Khamamik, Senin (07/05).
Karena itu, Khamamik mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku anarkis dan penggerak massa yang membakar kantor Pemerintah Kabupaten Mesuji pada Kamis (03/05) lalu.
"Ada motif lain dalam insiden pembakaran itu. Sebab saat kerusuhan terjadi, sebagian besar massa pendukung Ismail Ishak sudah meninggalkan lokasi setelah menduduki kantor itu selama 4 hari," ungkap Khamamik.
Menurut Khamamik, dirinya tidak begitu yakin jika massa pendukung Ismail yang membakar kantor pemkab. "Saya sepertinya tidak begitu yakin. Tapi saya memercayakan seluruhnya kepada aparat keamanan."
Adapun akibat tindakan anarkis ini, kerugian diderita ditaksir mencapai Rp2 miliar lebih. Kerugian terbesar yakni kerusakan bangunan perkantoran yang ludes dibakar api. Selain itu banyak dokumen-dokumen penting yang tidak bisa diselamatkan.
“Sebagian dokumen akan kami kumpulkan kembali. Aktivitas kantor akan tetap berjalan meski harus menumpang pada kantor-kantor kecamatan dan kampung," kata Khamamik.
Sementara, Kapolres Tulangbawang Ajun Komisaris Besar Shobarmen menegaskan, polisi akan menelusuri dugaan adanya mobilisasi massa dari luar Mesuji. Saat ini polisi masih fokus untuk menciptakan kondisi aman dan tertib di Mesuji dengan menempatkan aparat keamanan di sejumlah titik. "Kita sudah mendapat bantuan dari Polda Lampung. Mereka sudah disebar di sejumlah titik untuk mengantisipasi aksi susulan dan mengandalikan situasi."
Sebelumnya, sekelompok massa yang diduga pendukung Ismail Ishak, bekas Wakil Bupati Mesuji, mengamuk dan membakar kantor bupati dan sekretariat Kabupaten Mesuji beberapa waktu lalu. Mereka tidak puas atas keputusan Menteri Dalam Negeri memberhentikan Ismail dari jabatannya karena menjadi terpidana korupsi.
(zel/rin/wan) "Saat aksi terjadi, ada tiga kelompok, yaitu massa pendukung, warga, dan massa bayaran. Massa bayaran itu yang harus diusut," kata Khamamik, Senin (07/05).
Karena itu, Khamamik mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku anarkis dan penggerak massa yang membakar kantor Pemerintah Kabupaten Mesuji pada Kamis (03/05) lalu.
"Ada motif lain dalam insiden pembakaran itu. Sebab saat kerusuhan terjadi, sebagian besar massa pendukung Ismail Ishak sudah meninggalkan lokasi setelah menduduki kantor itu selama 4 hari," ungkap Khamamik.
Menurut Khamamik, dirinya tidak begitu yakin jika massa pendukung Ismail yang membakar kantor pemkab. "Saya sepertinya tidak begitu yakin. Tapi saya memercayakan seluruhnya kepada aparat keamanan."
Adapun akibat tindakan anarkis ini, kerugian diderita ditaksir mencapai Rp2 miliar lebih. Kerugian terbesar yakni kerusakan bangunan perkantoran yang ludes dibakar api. Selain itu banyak dokumen-dokumen penting yang tidak bisa diselamatkan.
“Sebagian dokumen akan kami kumpulkan kembali. Aktivitas kantor akan tetap berjalan meski harus menumpang pada kantor-kantor kecamatan dan kampung," kata Khamamik.
Sementara, Kapolres Tulangbawang Ajun Komisaris Besar Shobarmen menegaskan, polisi akan menelusuri dugaan adanya mobilisasi massa dari luar Mesuji. Saat ini polisi masih fokus untuk menciptakan kondisi aman dan tertib di Mesuji dengan menempatkan aparat keamanan di sejumlah titik. "Kita sudah mendapat bantuan dari Polda Lampung. Mereka sudah disebar di sejumlah titik untuk mengantisipasi aksi susulan dan mengandalikan situasi."
Sebelumnya, sekelompok massa yang diduga pendukung Ismail Ishak, bekas Wakil Bupati Mesuji, mengamuk dan membakar kantor bupati dan sekretariat Kabupaten Mesuji beberapa waktu lalu. Mereka tidak puas atas keputusan Menteri Dalam Negeri memberhentikan Ismail dari jabatannya karena menjadi terpidana korupsi.



