
Korsel Akan Bangun Pabrik Petrokimia di Cilegon
Politikindonesia - Sebuah perusahaan Korea Selatan Honam, Petrochemical Corporation, siap menanamkan modal di Indonesia senilai sekitar US$4 miliar-5 miliar atau sekitar Rp45 triliun, untuk membangun pabrik petrokimia terpadu di Cilegon, Banten.
"Honam sudah menjajaki investasi di Indonesia dan memilih Cilegon sebagai lokasi pabrik," ungkap Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis, di Gedung BKPM, Selasa (24/04).
Azhar menjelaskan, masuk ke Indonesia Honam menggandeng mitra lokal yaitu PT Titan Kimia Nusantara Tbk. Untuk membangun pabrik tersebut, Honam yang juga merupakan bagian dari Lotte Grup ini memerlukan lahan sekitar 60 hektare dan kemungkinan akan menempati wilayah PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC).
Meski begitu, menurut Azhar, sejauh ini rencana investasi Honam tersebut terkendala lahan karena belum tercapai kesekapatan dengan Krakatau Steel. Sebab masih ada permasalahan lahan yang akan dijadikan lokasi pabrik masih harus diselesaikan.
“Kita berharap Menteri BUMN Dahlan Iskan selaku kuasa pemegang saham Krakatau Steel ikut membantu penyelesaian masalah lahan tersebut," kata Azhar.
Sebelumnya, Senior Managing Director Honam Petrochemical Corporation Kim Gyo Hyun mengatakan, jika kendala lahan dapat diselesaikan maka diharapkan pembangunan bisa dimulai kuartal I 2013 dan diperkirakan rampung pada 2016.
Selain Honam, ungkap Azhar, perusahaan asal Korea Selatan yang juga siap merealisasikan investasinya di Indonesia adalah Samtan Corp. Perusahaan ini akan berinvestasi senilai 300 juta dolar AS mengembangkan eksplorasi gas di Sumatera Selatan.
Azhar mengatakan, setahun terakhir ini perusahaan asal Korea Selatan gencar melakukan investasi di Indonesia. Hal ini tercermin dari realisasi investasi kuartal I 2012 yang menempati posisi ke tiga investor terbesar di Indonesia, setelah Singapura dan Jepang. Adapun total realisasi investasi Korea Selatan triwulan I 2012 mencapai 500 juta dolar AS, atau mencapai 8,9% dari total invstasi PMA.



